News

Aktivitas Gempa Susulan M7,7 di Flores Hampir 10 Ribu Kali, Ini Penjelasan Ahli

Binti Mufarida 30/08/2026 16:41 WIB

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan gempa peristiwa gempa susulan di NTT.

Aktivitas Gempa Susulan M7,7 di Flores Hampir 10 Ribu Kali, Ini Penjelasan Ahli. (Foto: BMKG)

IDXChannel—Aktivitas gempa susulan pascagempa M7,7 di Flores terus meningkat dan kini hampir mencapai 10.000 kejadian. BMKG mencatat 9.870 gempa susulan hingga Minggu (30/8/2026) pukul 11.00 WIB, yang menurut ahli disebabkan tidak hanya oleh aktivitas Sesar Naik Flores, tetapi juga fenomena off-fault seismicity.

Kejadian gempa susulan tersebut dengan rentang magnitudo terkecil M 1.0 hingga magnitudo terbesar M 6.2. Dari total rangkaian itu, sebanyak 35 kejadian memiliki magnitudo di atas atau sama dengan 5.0 (M≥5.0), dan setidaknya terdapat 156 gempa susulan yang guncangannya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan secara tektonik dan geologi, pusat gempa utama serta mayoritas episenter gempa susulan berkonsentrasi di sepanjang zona Flores Back Arc Thrust (Sesar Naik Belakang Busur Flores).

“Distribusi spasial titik-titik gempa susulan membentang cukup luas dari barat ke timur di wilayah perairan Laut Flores hingga merambat ke area daratan pulau Flores bagian tengah dan barat,” kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (30/8/2026).

Daryono mengatakan dominasi warna merah pada simbol episenter mengindikasikan bahwa sebagian besar gempa susulan terjadi pada kedalaman dangkal (< 60 km).

Kedalaman yang dangkal inilah yang menyebabkan frekuensi guncangan yang dirasakan masyarakat (felt earthquakes) tergolong cukup tinggi (156 kali), meskipun sebagian besar magnitudonya berada di kisaran kecil hingga sedang (M≤5.0).

“Secara keseluruhan, kuantitas gempa susulan yang mencapai mendekati 10.000 kejadian mencerminkan proses pelepasan energi tegangan sisa (residual stress) yang sangat aktif,” katanya.

Daryono mengatakan sangat banyaknya jumlah aktivitas gempa susulan ini seolah tak lazim, sehingga menarik untuk dikaji. Secara tektonik, Gempa Utama Flores berkekuatan M7,7 dipastikan berasosiasi dengan aktivitas sesar naik yang dipicu Flores Backarc Thrust (Sesar Naik Belakang Busur Flores–Sesar Naik Flores). 

“Mekanisme sumber gempa utama ini mengonfirmasi adanya pergerakan sesar naik yang menunjukkan bahwa rangkaian gempa ini dipicu oleh pelepasan tegangan tektonik akibat pergeseran naik di sepanjang jalur Sesar Naik Flores,” kata Daryono.

Akan tetapi, kata Daryono, menariknya pada segmen kluster Flores barat, ditemukan ada 4 sumber gempa signifikan dengan magnitudo di atas M5,0 dengan mekanisme turun (normal fault) bukan naik (thrust fault). 

Artinya ada sumber gempa lain, selain  sesar naik Flores yang aktif dan memicu gempa “sekunder” dalam peristiwa gempa Flores saat ini.

“Sehingga wajar jika segmen Flores bagian barat memiliki kluster seismisitas gempa susulan menjadi sangat banyak. Ini yang menyebabkan total aktivitas gempa susulan di Flores menjadi sangat banyak yang seolah tak lazim, karena aktifnya sumber gempa lain, sehingga event gempa lain ikut meramaikan aktivitas gempa Flores,” katanya.

Daryono juga mengungkapkan bahwa fenomena aktifnya sumber gempa lain pasca gempa utama, dan memicu banyak gempa susulan di cluster diluar jalur sesar utama disebut sebagai “off fault seismicity”. Fenomena “off fault seismicity” umumnya dipicu oleh transfer tegangan statis (Coulomb stress transfer).

“Ketika patahan utama pecah, beban tegangan tidak hilang begitu saja, melainkan berpindah dan membebani patahan-patahan kecil di sekitarnya yang tadinya terkunci. Tingginya jumlah aktivitas gempa susulan Flores M7.7 yang luar biasa banyak, sudah  terjawab karena adanya fenomena “off fault seismicity”,” ujarnya.

Daryono mengatakan fenomena off-fault seismicity (gempa susulan yang terjadi di luar bidang patahan utama) yang dapat memicu jumlah gempa susulan menjadi sangat banyak, pernah terjadi saat Gempa Ambon M6,5 pada 26 September 2019. 

Saat itu gempa utama Ambon memicu aktifnya sesar-sesar aktif lain di sekitar sesar gempa utama, yang menyebabkan terjadinya gempa susulan lebih dari 3.000 kali.

“Beberapa contoh gempa luar negeri yang menunjukkan off-fault seismicity dengan aktivitas susulan luar biasa padat: Gempa Ridgecrest California M7,1 (2019), Gempa Landers California M7,3 (1992), Gempa Kumamoto, Jepang M7,3 (2016) dan Gempa Kaikōura, Selandia Baru M 7,8 (2016).  Gempa gempa ini membangkitkan aktifnya sesar di sekitar sesar pembangkit gempa utama (mainshock),” pungkasnya.

(Nadya Kurnia)

SHARE