News

BRIN Minta Pemprov DKI Jakarta Kaji Ulang Kebijakan Modifikasi Cuaca, Ini Alasannya

Niko Prayoga 05/02/2026 02:02 WIB

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meminta Pemprov DKI Jakarta untuk mengkaji ulang kebijakan modifikasi cuaca.

BRIN Minta Pemprov DKI Jakarta Kaji Ulang Kebijakan Modifikasi Cuaca, Ini Alasannya. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meminta Pemprov DKI Jakarta untuk mengkaji ulang kebijakan modifikasi cuaca yang diklaim menjadi langkah solutif mengendalikan hujan ekstrem dan banjir di Jakarta.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan menilai langkah tersebut tidak memiliki kepastian sasaran yang akurat. Dia juga menyoroti sikap pemerintah yang bersikeras melakukan modifikasi cuaca meski menuai banyak kritik.

Menurut dia, konsep dasar modifikasi cuaca saat ini masih memerlukan pengkajian yang jauh lebih dalam agar efektivitasnya bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan pertimbangan sains yang matang. 

"Pak Gubernur kok kayaknya kekeh. Padahal konsep dasar hujan buatan itu adalah perlu dikaji lebih mendalam. Supaya tepat waktu, kapan harus menyemai, tepat sasaran dan di mana," kata dia dalam agenda Media Longue Discussion bertema Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset di Kantor BRIN, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Eddy mengungkapkan, modifikasi cuaca seringkali dilakukan di saat yang tidak tepat, yakni pada puncak musim penghujan. Hal ini membuat sulit dibedakan mana hasil intervensi manusia dan mana fenomena alam murni.

Bahkan, kata dia, banyak negara di Asia Tenggara mulai meninggalkan praktik ini karena risiko yang lebih besar daripada manfaatnya.

"Anda membuat hujan buatan di daerah penghujan, di saat musim hujan hasilnya pasti hujan. Mana yang alami, mana buatan bisa dibedain? Makanya negara-negara at least South East Asia, mereka tahu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Saya sebenarnya tuh pada kesempatan ini Jakarta pasti kaji kembali," ujar dia.

Selain itu, modifikasi cuaca bukan teknologi penjamin untuk mengendalikan hujan secara tepat. Bahkan kecerdasan buatan (AI) sekalipun, yang bisa memastikan di mana air hujan tersebut akan jatuh setelah awan disemai tidak bisa menjamin. 

"Siapa yang bisa menjamin? Kalau awan yang saya semai itu jatuh di Jatiluhur? Teknologi apa? AI mana yang bisa menjamin? Enggak, tidak ada kepastian apapun. Oleh karena itu, saran saya coba dikaji-dikaji ulang. Deep analysis, deep science. Jangan sampai garam yang kita tabur bukannya air," ujar Eddy.

Eddy juga menyoroti anomali penggunaan modifikasi cuaca di Indonesia yang seharusnya dilakukan pada momen yang tepat. Bukan hanya pada saat hujan ekstrem namun juga saat musim kemarau dimana banyak lahan kekeringan karena air waduk atau danau yang surut.

"Kita gini, musim basah air di mana-mana, musim kemarau kering di mana-mana. Jadi maju kena mundur kena. Inginnya kita kemarau panjang ada hujan buatan karena waduk butuh air. Yang tidak lain adalah awan-awan yang besar tadi kita karbit supaya dia jangan jatuh di darat. Betul? Berarti di laut," kata dia.

(Dhera Arizona)

SHARE