El Nino Kuat Ancam Asia, Picu Risiko Krisis Energi dan Pangan
Asia dihadapkan pada ancaman baru selain dampak konflik Timur Tengah, yakni potensi kemunculan El Nino kuat dalam beberapa bulan ke depan.
IDXChannel - Asia dihadapkan pada ancaman baru selain dampak konflik Timur Tengah, yakni potensi kemunculan El Nino kuat dalam beberapa bulan ke depan.
Dilansir dari AFP pada Senin (11/5/2026), fenomena iklim ini berisiko meningkatkan permintaan energi, menekan produksi listrik tenaga air, serta mengganggu sektor pertanian di berbagai negara.
Badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan El Nino dapat muncul paling cepat antara Mei hingga Juli. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa El Nino ini kemungkinan cukup kuat, bahkan disebut-sebut mendekati El Nino besar yang terjadi pada 1997-1998.
Dampak El Nino diperkirakan akan dirasakan luas di kawasan Asia, termasuk Indonesia, negara-negara ASEAN, wilayah Mekong, Nepal, hingga China bagian selatan. Perubahan pola cuaca yang ditimbulkan dapat menggeser curah hujan dari daratan ke laut, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan, terutama di Indonesia.
Kondisi ini menjadi semakin kompleks karena terjadi di tengah gangguan pasokan energi global. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz akibat konflik geopolitik telah menghambat distribusi minyak dan gas.
Cuaca panas yang meningkat diperkirakan akan mendorong lonjakan konsumsi listrik untuk pendinginan, sementara produksi listrik tenaga air justru berpotensi menurun akibat berkurangnya curah hujan. Negara-negara yang mengandalkan pembangkit listrik tenaga air menjadi yang paling rentan menghadapi kondisi ini.
Di sektor pertanian, El Nino berpotensi memperburuk tekanan yang sudah ada akibat kenaikan biaya pupuk dan bahan bakar. Jika harga hasil panen tidak mampu menutup kenaikan biaya produksi, maka risiko penurunan penggunaan pupuk dan melemahnya hasil panen akan meningkat. Kondisi ini dapat memicu inflasi pangan serta memperburuk ketahanan pangan, terutama di negara yang bergantung pada impor.
Selain kekeringan, beberapa wilayah di Asia juga berpotensi mengalami hujan lebat ekstrem yang dapat memicu banjir dan mengganggu produksi pangan, termasuk panen padi di China bagian selatan.
Para ahli menilai ketidakpastian masih menyelimuti prospek El Nino, namun langkah antisipasi tetap diperlukan. Negara-negara di kawasan didorong untuk memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi dan percepatan penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, yang dinilai lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem.
(Reporter: Sheqilla Sukma) (Wahyu Dwi Anggoro)