Finalis Genera-Z Berbakti Beberkan Resep Tampil Optimal saat Debat di Hadapan Panelis
Debat peserta terjadi pada babak Head-to-Head yang mewajibkan para finalis saling adu argumen.
IDXChannel – Debat antarmahasiswa tersaji di Genera-Z Berbakti, sebuah program call for proposal untuk kelompok mahasiswa melakukan pengabdian masyarakat di lokasi desa wisata binaan Bakti BCA.
Momen tersebut bisa disaksikan pada babak final yang mempertemukan delapan finalis dalam memperebutkan empat desa binaan tujuan. Perdebatan tiap tim perwakilan delapan perguruan tinggi berbeda tersaji di hadapan para panelis Genera-Z Berbakti 2026, yakni Nicholas Saputra, Cinta Laura Kiehl, dan Tri Mumpuni.
Debat peserta terjadi pada babak Head-to-Head yang mewajibkan para finalis saling adu argumen, bertanya dan menjawab, serta mempertahankan ide masing-masing saat berduel memperebutkan desa tujuannya.
Sengitnya perdebatan dan persaingan menuju desa tujuan dirasakan langsung oleh salah satu perwakilan tim Mega Lestari dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Ghifari.
“Jiwa kompetitif saya akhirnya tersentil juga, jadi saya ingin memberikan yang terbaik. Saya percaya diri dan senang bisa melakukan head-to-head untuk saling menguji kekuatan proposal dengan tim lawan,” kata Ghifari.
Pada tahap Head-to-Head di babak memperebutkan Desa Wisata Situs Gunung Padang, Cianjur, Ghifari mewakili Unpad berhadapan dengan Miki, mahasiswa perwakilan IPB University. Keduanya beradu ide dan argumen memperebutkan desa wisata binaan Bakti BCA yang dituju.
Serupa dengan Ghifari, Miki mengaku yakin solusi dan argumen yang dibawakannya adalah yang terbaik.
“Saya tidak mau terlalu memikirkan lawan siapa. Terkait isi argumen, saya sangat yakin pilihan solusi yang tim kami rumuskan adalah pilihan terbaik dan siap untuk diterapkan,” ucap anggota tim Sabilulungan Lestari ini.
Ilmuwan dan wirausahawan sosial yang merupakan salah satu panelis, Tri Mumpuni, mengatakan, mahasiswa harus bisa menyampaikan ide dan gagasannya secara runut agar lebih mudah dipahami masyarakat. Hal ini penting dilakukan, agar ide dan gagasan tersebut tidak berhenti di tataran konsep belaka.
“Mahasiswa harus mampu menyampaikan ide secara runut, jelas, dan terstruktur, agar gagasannya mudah dipahami. Setelah berhasil memahami akar masalah yang ingin diselesaikan, mereka harus bisa merumuskan solusi secara kritis hingga menjadi program kerja nyata yang dapat diimplementasikan di desa,” kata Tri Mumpuni.
Melalui rangkaian ujian dari panelis dan debat antar-peserta, finalis Genera-Z Berbakti diajak berdiskusi dan beradu ide secara tajam, kritis, dan berfokus pada substansi inovasi sosial yang diusung. Sebanyak empat dari delapan finalis Genera-Z Berbakti berkesempatan mengimplementasikan gagasan di empat desa wisata binaan Bakti BCA.
Keempat desa wisata tersebut adalah Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung; Desa Wisata Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur; Desa Wisata Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo; dan Desa Wisata Kakaskasen Dua, Kota Tomohon.
“BCA melihat antusiasme dan semangat kompetitif para finalis di setiap tahapan program sebagai hal yang positif. Ini menunjukkan mereka benar-benar memahami dan meyakini ide masing-masing," kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn.
"Kami berharap semangat ini dapat terus mereka jaga, khususnya saat nanti mengimplementasikan program dan berkolaborasi dengan masyarakat di desa wisata binaan Bakti BCA,” katanya.