News

Iran-AS Kembali Bentrok di Tengah Kabar Perpanjangan Gencatan Senjata 60 Hari

Wahyu Dwi Anggoro 29/05/2026 09:39 WIB

Iran mengklaim telah menembak jatuh sebuah pesawat militer Amerika Serikat (AS) di wilayah selatan negara itu.

Iran-AS Kembali Bentrok di Tengah Kabar Perpanjangan Gencatan Senjata 60 Hari. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Iran mengklaim telah menembak jatuh sebuah pesawat militer Amerika Serikat (AS) di wilayah selatan negara itu.

Dilansir dari Al Arabiya pada Jumat (29/5/2026), pesawat itu dikabarkan ditembak jatuh dekat Bushehr, kota pelabuhan di Teluk.

Militer AS membantah klaim tersebut. Komando Pusat (Centcom) mengatakan bahwa seluruh armada udaranya berada dalam kondisi aman.

"Tidak ada pesawat AS yang ditembak jatuh. Semua aset udara AS dalam keadaan aman," kata Centcom dalam sebuah unggahan di X.

Bentrokan antara kedua pihak meningkat beberapa hari ke belakang. Insiden terbaru ini terjadi di tengah munculnya kabar kesepakatan perpanjangan gencatan senjata.

Drafnya dilaporkan telah disepakati para negosiator, namun masih memerlukan persetujuan dari Presiden Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

Seorang pejabat AS yang mengetahui perkembangan negosiasi tersebut mengatakan, kedua tim negosiasi telah menyepakati draf nota kesepahaman (MoU) terkait perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.

Menurut sumber tersebut, perjanjian tersebut akan mencakup janji Iran untuk tidak pernah mengincar senjata nuklir dan komitmen Teheran untuk memulai diskusi tentang pelepasan persediaan uranium.

Iran juga berjanji membuka kembali Selat Hormuz, serta mulai membersihkan ranjau laut di jalur maritim strategis tersebut.

Di sisi lain, Washington berjanji akan mulai melonggarkan sanksi, serta memulai pembahasan terkait pencairan dana Iran yang dibekukan.

Militer AS juga akan mengakhiri blokade terhadap Iran. Selain itu, pemerintahan Trump akan berupaya mengakhiri perang di Lebanon antara Hizbullah dan Israel.

Meski demikian, baik Washington maupun Teheran belum mengonfirmasi keberadaan draf tersebut. Sejumlah media Iran mengatakan bahwa kabar itu tidak benar. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE