Kemensos Gelontorkan Bantuan Rp4,5 Miliar untuk Korban Gempa M7,7 NTT
Kemensos juga menyiapkan pengungsian sementara, serta memobilisasi bantuan logistik sementara senilai lebih dari Rp4,5 miliar.
IDXChannel - Kementerian Sosial (Kemensos) langsung mengerahkan Tagana dan petugas ke wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).
Kemensos juga menyiapkan pengungsian sementara, serta memobilisasi bantuan logistik sementara senilai lebih dari Rp4,5 miliar. Masih akan ditambah menyesuaikan keadaan di lapangan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan seluruh unsur penanganan bencana telah bergerak dan berkoordinasi di lapangan. Pemerintah Provinsi NTT bersama pemerintah kabupaten terdampak juga terus melakukan asesmen untuk memastikan kondisi warga dan kebutuhan yang harus segera dipenuhi.
“Semua unsur sudah bergerak dan berkoordinasi di lapangan. BNPB, TNI, Polri, Basarnas, Kemensos, pemerintah daerah, serta relawan dari berbagai unsur bersama-sama melakukan evakuasi dan memberikan dukungan logistik yang dibutuhkan,” kata Gus Ipul.
“Gubernur dan para bupati yang daerahnya terdampak juga sudah aktif bergerak. Untuk data sementara warga maupun infrastruktur yang terdampak masih dalam proses pendataan,” lanjutnya.
Gempa terjadi pukul 05.58 WITA dengan episenter berada di laut sekitar 30-38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Gempa berkedalaman 15 kilometer tersebut dirasakan di sejumlah wilayah NTT hingga beberapa daerah di luar provinsi.
BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami pada pukul 05.02 WIB (06.02 WITA). Warga di sejumlah wilayah pesisir kemudian bergerak menuju tempat yang lebih tinggi. Peringatan tersebut diakhiri pada pukul 07.41 WIB (08.41 WITA) setelah ancaman tsunami dinyatakan berlalu.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun hingga Sabtu siang, sekitar 2.000 jiwa terdampak. Sementara, 38 orang dilaporkan meninggal dunia.
Wilayah terdampak sementara meliputi Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai, Manggarai Barat, Ende, serta sejumlah wilayah lainnya. Nagekeo, khususnya Mbay dan sekitarnya, menjadi salah satu daerah yang paling terdampak.
Sejak laporan gempa diterima, Kemensos langsung mengerahkan personel Tagana dan Petugas Sosial Kesiapsiagaan Bencana (PSKB). Mereka bergabung dengan unsur penanganan lainnya untuk membantu asesmen, evakuasi, pendataan warga, serta mengidentifikasi kebutuhan mendesak.
Tenda-tenda darurat juga disiapkan untuk warga yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Sejumlah titik yang digunakan warga untuk mengungsi antara lain Lapangan Umum Mbay serta beberapa lokasi aman di wilayah Maumere, Borong, dan Ruteng.
Bersamaan dengan penanganan warga, Kemensos langsung menggerakkan stok logistik dari Sentra Efata Kupang. Bantuan senilai Rp 1,015 miliar diarahkan ke Kabupaten Nagekeo agar kebutuhan dasar warga dapat segera dipenuhi.
Kemensos juga mengoptimalkan stok yang tersedia di Gudang Dinas Sosial Provinsi NTT. Bantuan senilai sekitar Rp 541,6 juta didistribusikan untuk mendukung penanganan di Nagekeo, Sikka/Maumere, Ende, dan Manggarai Timur.
Untuk memastikan persediaan logistik tetap mencukupi selama masa penanganan, saat ini dukungan dari Gudang Pusat Bekasi juga dimobilisasi menuju NTT. Sebagian dikirim ke Dinas Sosial Provinsi NTT senilai Rp 1,482 miliar dan sebagian lainnya menuju Sentra Efata Kupang senilai Rp1,478 miliar. Secara keseluruhan, nilai dukungan logistik yang dimobilisasi mencapai sekitar Rp4,518 miliar.
“Logistik sudah kita gerakkan dari Kupang dan dari pusat. Tim Kemensos juga berada di lapangan bersama pemerintah daerah dan unsur lainnya. Kita sesuaikan dukungan berikutnya dengan hasil asesmen dan kebutuhan warga,” kata Gus Ipul.
Selain memastikan bantuan tersedia, tim Kemensos bersama pemerintah daerah terus melakukan verifikasi dan validasi terhadap korban meninggal, korban luka, warga yang membutuhkan pengungsian, serta kerusakan rumah dan bangunan. Pendataan tersebut penting untuk menentukan kebutuhan lanjutan dan bentuk dukungan yang harus diberikan kepada masing-masing wilayah.
(Nur Ichsan Yuniarto)