Kemhan AS Ungkap Perang Iran Sedot Anggaran Rp850 Triliun
Kemhan AS mengungkapkan perang melawan Iran telah menghabiskan dana sedikitnya USD47,1 miliar atau Rp850 triliun hingga 16 Oktober 2026.
IDXChannel - Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Kemhan AS) mengungkapkan perang AS-Israel melawan Iran telah menghabiskan dana sedikitnya USD47,1 miliar atau Rp850 triliun hingga 16 Oktober 2026. Angka itu meningkat seiring berlanjutnya konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 dan berpotensi membebani anggaran pemerintah serta perekonomian AS.
Dikutip dari Aljazeera, Jumat (30/10/2026), laporan tersebut disampaikan Pentagon kepada Kongres AS menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada Selasa mendatang. Pemilu ini akan menentukan apakah Partai Republik yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump mampu mempertahankan kendali atas Kongres selama dua tahun ke depan.
Dalam laporan tersebut, estimasi mencakup biaya dan proyeksi operasional perang USD29 miliar untuk mengganti persenjataan yang telah digunakan seperti bom, peluru, dan perlengkapan militer lainnya. Pentagon juga menyatakan telah menggunakan 97,5 persen dana yang dialokasikan dalam anggaran One Big Beautiful Bill Act.
Sejak perang dimulai, Angkatan Udara AS telah menghabiskan USD7,6 miliar untuk operasional pesawat tempur dan pengebom. Angkatan Laut mengeluarkan USD1,5 miliar untuk mengoperasikan kapal perang dan kapal induk, sedangkan Angkatan Darat menghabiskan USD2,1 miliar untuk menopang pasukannya di Timur Tengah. Selain itu, Pentagon mengalokasikan USD6,1 miliar untuk mengganti pesawat dan persenjataan yang rusak.
Namun, estimasi tersebut belum mencakup biaya perbaikan pangkalan militer AS di Timur Tengah yang rusak akibat serangan Iran maupun biaya bahan bakar untuk kapal dan pesawat militer. Kondisi ini membuat total pengeluaran perang berpotensi terus meningkat.
Penasihat keselamatan, keamanan, dan risiko asal Inggris sekaligus mantan instruktur militer, John Phillips, mengatakan estimasi USD47,1 miliar sebaiknya dipandang sebagai akumulasi biaya sementara, bukan total pengeluaran akhir perang.
“Jika perang berlanjut tanpa hasil yang berkelanjutan, AS berisiko terus mengeluarkan biaya untuk mempertahankan tekanan militer sekaligus membangun kembali kemampuan yang telah terkuras,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, perang turut menekan masyarakat AS melalui kenaikan harga energi dan bahan bakar. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak awal Maret mengganggu jalur distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan global. Harga solar di AS mencapai USD6,35 per galon pada Rabu, dibandingkan USD3,75 pada tahun sebelumnya, menurut data American Automobile Association.
(Rahmat Fiansyah)