News

Konflik Timteng Picu Krisis Pupuk, Produksi Gandum Australia Anjlok

Wahyu Dwi Anggoro 07/06/2026 14:05 WIB

Panen gandum tahunan Australia diperkirakan turun 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya, tertekan kenaikan harga pupuk.

Konflik Timteng Picu Krisis Pupuk, Produksi Gandum Australia Anjlok.

IDXChannel - Panen gandum tahunan Australia diperkirakan turun 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya, tertekan kenaikan harga pupuk yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Dilansir dari Xinhua, Biro Ekonomi dan Ilmu Pertanian dan Sumber Daya Australia (ABARES) merilis prediksi tersebut pada Minggu (7/6/2026). 

Produksi gandum nasional diperkirakan turun menjadi 26,7 juta ton pada musim 2026-2027, turun 26 persen dari musim 2025-2026 dan 8 persen di bawah rata-rata 10 tahun.

Laporan lainnya dari ABARES  menyatakan bahwa total luas lahan yang ditanami gandum diperkirakan turun 12 persen menjadi 10,9 juta hektar pada musim 2026-2027, terkecil sejak musim 2019-2020.

Secara keseluruhan, laporan tersebut menyatakan bahwa produksi tanaman musim dingin Australia diperkirakan turun 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 54,5 juta ton.

Laporan komoditas tersebut menyatakan bahwa banyak petani diperkirakan akan membiarkan lahan yang telah dibajak tidak ditanami karena kenaikan harga bahan bakar dan pupuk, serta kondisi kekeringan dan perkiraan curah hujan musim dingin nasional yang di bawah rata-rata.

"Dampak konflik Timur Tengah sangat signifikan bagi pertanian Australia karena sektor ini berorientasi ekspor dan sistem pertanian menggunakan impor bahan bakar, pupuk, bahan kimia, dan kemasan sebagai input," kata laporan tersebut.

Menurut ABARES, harga ekspor biji-bijian dan minyak nabati Australia telah naik sekitar 20 persen sejak konflik di Timur Tengah dimulai, tetapi harga domestik pupuk urea telah naik lebih dari 80 persen dalam periode yang sama.

Laporan tersebut menanbahkan nilai ekspor pertanian diperkirakan akan turun sebesar 9 persen menjadi 74,8 miliar dolar Australia. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE