News

Lawan Tekanan Trump, Ukraina Lanjut Serang Kilang Minyak Rusia

Wahyu Dwi Anggoro 16/10/2026 09:45 WIB

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara tegas menolak pemerintahan Amerika Serikat (AS) untuk berhenti menyerang kilang-kilang minyak Rusia.

Lawan Tekanan Trump, Ukraina Lanjut Serang Kilang Minyak Rusia. (Foto: AP)

IDXChannel -  Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara tegas menolak pemerintahan Amerika Serikat (AS) untuk berhenti menyerang kilang-kilang minyak Rusia.

Dalam sebuah wawancara, Zelensky mengungkapkan kekecewaannya terhadap Presiden AS Donald Trump yang berhubungan dekat dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin.

"Bagaimana mungkin Trump bisa berteman dengannya? Saya pikir itu sebuah kesalahan," kata Zelensky kepada The Financial Times, dilansir pada Jumat (16/10/2026).

Pemerintahan Trump memang sejak lama bersikap tidak konsisten terhadap Ukraina. Namun, hubungan keduanya makin merenggang setelah Trump mengumumkan kesepakatan pembelian bahan bakar solar dari Rusia pekan lalu.

Zelensky menilai langkah tersebut akan membantu mendanai invasi Rusia di Ukraina, yang telah berlangsung sejak 2022.

Trump makin meningkatkan ketegangan akhir pekan lalu dengan secara sepihak mendeklarasikan gencatan senjata di sektor energi antara Ukraina dan Rusia, serta menyerukan agar Zelensky digantikan presiden baru.

Ukraina juga khawatir Washington akan berhenti menyuplai sumber daya intelijen. Pekan ini, Kyiv menyatakan bahwa pasukannya telah kehilangan sebagian akses ke jaringan satelit Starlink.

Menghadapi hal-hal tersebut, Zelensky kini tampaknya sudah habis kesabaran.

"Selesai sudah. (Penangguhan serangan ke kilang minyak di Rusia) sudah berakhir," kata Zelensky.

Trump mendesak Kyiv untuk berhenti menyerang kilang minyak Rusia agar Moskow dapat mengirimkan lebih banyak solar ke pasar global, mengingat harga yang tinggi mengancam prospek Partai Republik dalam pemilu paruh waktu.

Mayoritas pemimpin Eropa juga mengkritik keputusan pemerintahan Trump untuk mencabut sanksi terhadap solar Rusia.

"Kesepakatan diesel yang konyol ini tidak akan berdampak apa pun terhadap harga di pasar dunia," kata Perdana Menteri Belanda Rob Jetten, dilansir dari The New York Times.

 "Langkah ini justru mengisi kas perang Putin, jadi ini benar-benar pilihan yang sangat buruk dari pihak Trump, dan ia sebaiknya membatalkannya," katanya. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE