Masih Ada Kesempatan untuk Cegah Virus Hanta Masuk, Ini Penjelasan Ahli Epidemiologi UI
Pencegahan bisa dilakukan dengan mengamankan seluruh transportasi dan fasilitas publik dari hewan-hewan yang berpotensi menularkan virus Hanta.
IDXChannel—Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini masih memiliki kesempatan untuk mencegah masuknya virus Hanta yang tengah mengguncang dunia internasional.
Virus Hanta menjadi sorotan setelah muncul dan menginfeksi tiga orang di kapal pesiar MV Hondius di Tanjung Verde beberapa waktu lalu dan telah menimbulkan korban jiwa.
Menurutnya, Indonesia masih bisa melakukan pencegahan. Dengan syarat memiliki respons yang cepat terhadap kabar kemunculan virus tersebut. Mengingat ancaman potensial virus Hanta untuk menyebar bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
“Oh, pasti (memiliki potensi mencegah) asal kita mempunyai respons yang cepat. Sering kali orang bilang: ‘Oh, Belanda masih jauh. Oh, itu kejadian di sana. Ya, kan? Artinya kita enggak pernah berpikir bahwa ada potential threat yang bisa mengancam siapa pun dan di mana pun,” kata Pandu saat diwawancarai di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (7/5/2036).
Pandu menyebut bentuk pencegahan bisa dilakukan dengan mengamankan dan melakukan sterilisasi terhadap seluruh transportasi dan fasilitas publik dari hewan-hewan yang berpotensi menularkan virus Hanta.
“Kita pasti punya usaha untuk mengamankan tempat-tempat publik, terutama transportasi, supaya tidak ada hewan-hewan. Di rumah saja kita takut kalau ada tikus, apalagi di kapal. Di kapal itu kan dia enggak bisa ke mana-mana. Hidup bersama dengan tikus di kapal itu, berhari-hari. Kalau tikusnya sakit, membawa penyakit, yang ditularkan siapa? Ya, penumpang di kapal itu,” jelas dia.
Pandu menjelaskan bahwa, langkah tersebut bisa dilakukan mengingat kemunculan virus Hanta di kapal pesiar terjadi akibat tidak ada penjagaan terhadap vektor (kuman) yang berada pada hewan dan berpotensi tertular ke manusia.
“Kejadian yang Hanta itu, artinya di kapal itu tidak ada penjagaan supaya tidak ada vektor, vektor kuman. Indonesia harus siap mengantisipasi agar semua transportasi publik, terutama yang jarak jauh. Seperti kapal, kan bisa berhari-hari di laut, apalagi kapal pesiar dan sebagainya, benar-benar dijamin tidak ada vektor yang bisa memungkinkan penularan,” jelas Pandu.
Apalagi, virus tersebut mengalami jumping to species atau perpindahan dari hewan ke manusia. Kemungkinan virus untuk bermutasi bisa lebih besar dan berpotensi mewabah.
Selain itu, tubuh manusia tidak memiliki daya tahan terhadap virus yang ditularkan dari hewan, sehingga akhirnya berpotensi menyebar melalui napas ataupun air seni.
“Kita harus mencegah penularan dari hewan ke manusia supaya kalau nanti terjadi mutasi, yang susah dikenali kan mutasi. Kalau sudah terjadi penularan dari manusia ke manusia, itu sudah out of control. Menyeramkan. Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk,” tambah dia.
Terlebih lagi, virus yang akan muncul di masa depan banyak kemungkinan berasal dari hewan, salah satunya adalah COVID-19 yang muncul dari kelelawar. Sehingga kesehatan tubuh manusia harusnya seirama dengan kondisi kesehatan hewan-hewan.
“Kita jadi kerangka berpikirnya lebih luas, jangan hanya memikirkan kesehatan manusia, tapi melupakan kesehatan pada hewan. Karena potensial penyakit yang mewabah di masa depan itu akan datang dari hewan. COVID-19 datang dari kelelawar, flu burung dari unggas. Jadi itu yang harus kita persiapkan supaya tidak terjadi pandemi seperti COVID-19,” kata Pandu.
(Nadya Kurnia)