News

Negara Teluk Kehilangan Pendapatan Migas Rp256 Triliun Imbas Perang Iran-AS

Wahyu Dwi Anggoro 15/03/2026 09:03 WIB

Negara Arab di Teluk telah kehilangan setidaknya USD15,1 miliar atau sekitar Rp256 triliun pendapatan minyak dan gas sejak dimulainya perang di Timur Tengah.

Negara Teluk Kehilangan Pendapatan Migas Rp256 Triliun Imbas Perang Iran-AS. (Foto: AP)

IDXChannel - Negara Arab di Teluk telah kehilangan setidaknya USD15,1 miliar atau sekitar Rp256 triliun pendapatan minyak dan gas sejak dimulainya perang di Timur Tengah.

Dilansir dari Oilprice pada Minggu (15/3/2026), angka tersebut berdasarkan perkiraan perusahaan analisis komoditas Kpler.

Penutupan de facto Selat Hormuz telah menghentikan aliran jutaan barel minyak mentah dan produk minyak bumi olahan per hari, serta 20 persen dari pasokan gas alam cair (LNG) global.

Sejak perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran dimulai, produsen migas di Teluk telah kehilangan pendapatan sebesar USD15,1 miliar, atau USD1,2 miliar per hari.

Tak lama setelah perang dimulai, Qatar menghentikan produksi LNG di Ras Laffan, kompleks pencairan gas alam terbesar di dunia, dan mengeluarkan pemberitahuan force majeure kepada pelanggan.

Situasi minyak sama buruknya. Produsen migas di Teluk telah menghentikan sekitar 10 persen produksi minyak global harian.

Rute alternatif seperti lewat terminal Yanbu di Laut Merah milik Arab Saudi tidak cukup untuk mengimbangi berhentinya pasokan dari rute Selat Hormuz.

Arab Saudi kehilangan pendapatan terbesar sejak perang dimulai, tetapi pihak yang paling dirugikan dalam hal keuangan pemerintah adalah Irak.

Negeri Mesopotamia itu bergantung pada pendapatan minyak dan tidak memiliki cadangan kekayaan yang besar seperti Kuwait atau Arab Saudi. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE