Pakai Masker N95 Saat Karhutla, Apakah Paru-paru Aman? Dokter Ungkap Faktanya
dr. Linda Masniari menjelaskan mengapa solusi utama saluran pernapasan untuk karhutla bukanlah pemakaian masker.
IDXChannel—Penggunaan masker sering dianjurkan untuk melindungi saluran pernapasan ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Seperti yang saat ini tengah terjadi di wilayah Kalimantan, Kementerian Kesehatan RI kemudian memfokuskan penggunaan masker untuk menurunkan potensi ISPA bagu masyarakat di Kalimantan.
Dokter Spesialis Paru MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Linda Masniari, Sp.P (K), Onk. T., FISR, mengatakan masker memang dapat mengurangi paparan, tetapi tidak dapat menangkal asap hingga 100 persen.
Salah satu yang direkomendasikan untuk menangkal asap karhutla ini adalah masker N95 seperti yang sering digunakan pada masa pandemi Covid-19.
“Sebenarnya kalau untuk menangkal 100 persen enggak bisa, tetapi paling enggak ada sedikit pengurangan. Kalau misalnya mau itu paling pakai masker waktu kita COVID dulu, pakai masker N95,” ujar dr Linda saat ditemui di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi pada Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, masker N95 tetap lebih disarankan ketika seseorang harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap. Jenis masker tersebut memiliki kemampuan filtrasi yang lebih baik dibandingkan masker biasa.
Namun, ada alasan mengapa N95 tetap tidak bisa memberikan perlindungan sempurna. Ukuran partikel dalam asap sangat kecil sehingga sebagian masih berpotensi masuk hingga ke bagian dalam paru-paru.
“Asap kan ukurannya di bawah 0,5 mikron, jadi dia bisa masuk ke paru dan bisa mengendap di alveoli,” jelasnya.
Meski tidak memberikan perlindungan 100 persen, dr Linda menegaskan penggunaan N95 tetap dapat membantu mengurangi paparan asap. Artinya, masyarakat yang berada di wilayah terdampak karhutla tetap dapat menggunakan masker sebagai salah satu upaya perlindungan.
Selain itu, dr Linda juga menjelaskan bahwa paparan asap dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan paru yang bersifat akut. Misalnya bronkitis, asma hingga cedera paru akut adalah beberapa hal yang bisa terjadi karena paparan asap.
Jika paparan berlangsung dalam waktu lama, risikonya dapat berkembang menjadi gangguan paru kronis hingga kanker paru.
“Kalau misalnya dia terpapar lama, bisa menyebabkan salah satunya kanker paru. Karena salah satu faktor risiko adalah kebakaran hutan atau lahan,” tuturnya.
Persoalan asap bukan hanya terletak pada apa yang terlihat oleh mata. Partikel berukuran sangat kecil dapat masuk melalui saluran pernapasan dan mencapai bagian dalam paru.
Hal inilah yang membuat paparan asap dalam jangka panjang perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah yang berulang kali mengalami karhutla.
Bukan hanya asap kebakaran hutan. Asap rokok, kendaraan bermotor hingga pembakaran sampah juga termasuk paparan lingkungan yang dapat meningkatkan risiko gangguan paru.
Karena itu, ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, mengurangi paparan tetap menjadi langkah penting. Penggunaan N95 dapat membantu menekan jumlah partikel yang terhirup, tetapi masyarakat tetap perlu menghindari paparan asap selama mungkin.
(Nadya Kurnia)