News

Paparan Kabut Asap Bisa Berbuntut pada Pneumonia, Begini Penjelasan Dokter Paru

Niko Prayoga 03/09/2026 15:08 WIB

Bahaya utama kabut asap terletak pada dampaknya terhadap sistem pertahanan alami paru-paru manusia.

Paparan Kabut Asap Bisa Berbuntut pada Pneumonia, Begini Penjelasan Dokter Paru. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Fenomena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia. Dengan peningkatan keluhan pernapasan warga, timbul satu pertanyaan yang cukup mendasar, mengapa paparan asap pembakaran bisa berujung pada pneumonia, padahal asap bukanlah kuman atau bakteri?

Dokter Spesialis Paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Erlina Burhan dalam unggahan di akun instagramnya memberikan penjelasannya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. 

Dia memaparkan bahwa bahaya utama kabut asap terletak pada dampaknya terhadap sistem pertahanan alami paru-paru manusia.

“Pertanyaan yang sering sampai ke saya, kenapa asap bisa sampai berujung pada pneumonia, padahal asap bukan kuman? Jawabannya ada pada apa yang dilakukan asap terhadap pertahanan paru kita,” tulis Prof. Erlina, dikutip Kamis (3/9/2026).

Pneumonia sendiri merupakan kondisi infeksi pada kantong udara paru (alveoli). Ketika kantong yang seharusnya berisi udara justru terisi cairan atau nanah, proses pertukaran oksigen terganggu dan membuat napas terasa berat. Infeksi ini umumnya dipicu oleh bakteri pneumokokus maupun virus influenza.

Menurutnya, asap memang memicu reaksi spontan seperti mata perih atau tenggorokan gatal. Namun, ancaman terbesar justru datang dari material tak kasat mata yang terkandung di dalamnya, yaitu partikel halus Particulate Matter (PM2.5) yang ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut.

“Karena sehalus itu, partikel ini lolos dari saringan hidung dan masuk sampai ke bagian terdalam paru. Ia juga membawa zat sisa pembakaran yang bersifat racun bagi sel-sel paru,” jelas dia.
 
Ketika PM2.5 dan zat beracun masuk ke dalam saluran pernapasan, sistem imun paru-paru akan mengalami kerusakan secara bertahap dalam dua tahapan utama. Pertama adalah lumpuhnya silia. Lapis pertahanan pertama yang diserang adalah silia, yaitu bulu-bulu halus yang berfungsi menyapu lendir dan kotoran keluar dari paru.

“Saat saluran napas meradang, kerja silia ikut melemah dan kuman yang seharusnya tersapu keluar jadi bertahan,” cetus Prof. Erlina.

Kedua adalah melemahnya makrofag atau sel penjaga paru. Setelah silia melumpuh, zat beracun menyasar makrofag, yakni sel khusus di dalam paru yang bertugas menelan dan menghancurkan kuman.

“Zat racun pada partikel asap melemahkan kemampuan sel ini menangkap kuman yang telanjur masuk. Sampai di sini, paru sudah kehilangan dua lapis pertahanannya. Kuman yang biasanya bisa diatasi tubuh mendapat ruang untuk berkembang, dan pneumonia pun terjadi,” tambah dia.

Meski kuman berada di sekitar lingkungan yang sama, dampaknya tidak serta-merta setara pada setiap individu. Ada kelompok masyarakat yang jauh lebih rentan mengalami perburukan kondisi kesehatan secara cepat saat terpapar kabut asap.

“Kuman itu tidak berdampak sama pada setiap orang. Yang paling perlu diperhatikan adalah anak-anak, lansia, serta mereka dengan asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), atau penyakit jantung. Daya tahan paru mereka lebih terbatas, sehingga gangguan ringan pun bisa cepat memberat,” pungkas Prof. Erlina.


(Nadya Kurnia)

SHARE