Peraih Nobel Ekonomi Dorong Indonesia Temukan Model Ekonominya Sendiri
Robinson menyebut bahwa Indonesia memiliki pengalaman politik yang khas dan berakar kuat pada sejarah serta kebudayaannya sendiri.
IDXChannel – Peraih Nobel Ekonomi 2024 sekaligus penulis buku Why Nations Fail, Prof. James A. Robinson, menyoroti Pancasila sebagai salah satu fondasi penting dalam keberhasilan Indonesia mengelola keberagaman.
Robinson menyebut bahwa Indonesia memiliki pengalaman politik yang khas dan berakar kuat pada sejarah serta kebudayaannya sendiri.
Direktur Megawati Institute, Hilmar Farid mengatakan Indonesia punya sejarah dan kebudayaan yang sangat kaya. Pancasila menjadi bagian penting dari bagaimana bangsa yang sangat beragam ini dapat hidup bersama. Prof. Robinson melihat pengalaman Indonesia ini sebagai sesuatu yang menarik, bahkan menyebut Indonesia sebagai semacam political miracle.
"Robinson membandingkan pengalaman Indonesia dengan berbagai negara yang pernah menjadi objek penelitiannya, salah satu pertanyaan penting yang kemudian muncul adalah bagaimana keberhasilan Indonesia membangun landasan politik yang khas tersebut dapat diterjemahkan lebih jauh dalam bidang ekonomi," katanya.
“Salah satu pertanyaan menari dari Robinson pada diskusi tadi adalah kalau kita memiliki Pancasila yang menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, lalu bagaimana dengan ekonominya? Seperti apa model ekonomi yang benar-benar tumbuh dari sejarah, kebudayaan, dan kebutuhan masyarakat Indonesia sendiri?” lanjutnya.
Menurut Hilmar, pertanyaan tersebut semakin relevan karena dunia saat ini justru sedang mempertanyakan kembali berbagai model pembangunan yang selama ini dianggap mapan.
“Dia melihat bahwa di dunia sekarang ini, orang justru sedang mencari kembali pemikiran, rumusan, dan landasan, baik di bidang ekonomi maupun politik. Banyak sistem yang selama ini dianggap mapan sedang menghadapi persoalan yang serius,” katanya.
Hilmar menjelaskan, salah satu pelajaran penting dari pemikiran Robinson adalah tidak adanya satu model pembangunan yang dapat begitu saja diterapkan kepada semua negara.
China, Korea Selatan, Jerman, Swedia hingga Amerika Serikat berkembang dengan pengalaman sejarah, institusi, dan karakter masyarakat yang berbeda-beda.
“Karena itu, menurut saya, pertanyaan yang penting bukan negara mana yang harus kita tiru. Justru kita perlu kembali melihat apa yang kita punya, bagaimana sejarah kita, kebudayaan kita, dan institusi seperti apa yang paling sesuai dengan masyarakat Indonesia,” kata dia.