Serangan AS-Israel ke Iran Lumpuhkan Penerbangan Global, Ribuan Flight Dibatalkan
Serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu gangguan besar pada lalu lintas penerbangan internasional.
IDXChannel – Serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu gangguan besar pada lalu lintas penerbangan internasional. Penutupan wilayah udara di sejumlah negara Timur Tengah membuat ratusan ribu penumpang terlantar dan memaksa maskapai membatalkan serta mengalihkan ribuan penerbangan lintas benua.
Sejumlah negara di kawasan, termasuk Israel, Qatar, Suriah, Iran, Irak, Kuwait, dan Bahrain, menutup wilayah udaranya. Situs pelacak penerbangan FlightRadar24 juga mencatat tidak adanya aktivitas penerbangan di atas Uni Emirat Arab (UEA) setelah pemerintah setempat mengumumkan penutupan wilayah udara secara sementara dan parsial.
Kondisi tersebut menyebabkan operasional tiga bandara hub utama yakni Dubai, Abu Dhabi, dan Doha terhenti. Lebih dari 1.000 penerbangan maskapai besar Timur Tengah terpaksa dibatalkan. Maskapai Emirates, Qatar Airways, dan Etihad yang beroperasi di bandara-bandara tersebut biasanya melayani sekitar 90.000 penumpang per hari, menurut data perusahaan analitik penerbangan Cirium. Dubai International Airport sendiri merupakan bandara tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional.
Bandara Jadi Sasaran Serangan Balasan Iran
Sejumlah bandara utama di kawasan juga dilaporkan terdampak serangan balasan Iran. Bandara Internasional Dubai serta hotel ikonik Burj Al Arab mengalami kerusakan, dengan empat orang dilaporkan terluka. Sementara itu, Abu Dhabi Airports sempat menyampaikan adanya insiden di Bandara Internasional Zayed yang menyebabkan satu orang meninggal dunia dan tujuh lainnya luka-luka, meski pernyataan tersebut kemudian dihapus.
“Bagi para pelancong, tidak ada cara untuk memperhalus situasi ini,” ujar analis industri penerbangan dan Presiden Atmosphere Research Group, Henry Harteveldt. Ia memperkirakan keterlambatan dan pembatalan penerbangan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Menguitp The Guardian, Minggu (01/03/2026) tercatat dari sekitar 4.218 penerbangan yang dijadwalkan mendarat di negara-negara Timur Tengah pada Sabtu, sebanyak 966 penerbangan atau 22,9 persen dibatalkan. Jika termasuk penerbangan keberangkatan, jumlah pembatalan mencapai lebih dari 1.800 penerbangan.
Untuk Minggu, sebanyak 716 dari total 4.329 penerbangan menuju kawasan Timur Tengah telah dibatalkan. Sementara itu, FlightAware melaporkan lebih dari 18.000 penerbangan mengalami keterlambatan dan lebih dari 2.350 penerbangan dibatalkan secara global hingga Sabtu malam waktu GMT.
Maskapai yang biasanya melintasi Timur Tengah kini harus memutar rute penerbangan, banyak di antaranya dialihkan ke jalur selatan melalui Arab Saudi. Pengalihan ini menambah durasi terbang hingga berjam-jam dan meningkatkan konsumsi bahan bakar, yang berpotensi mendorong kenaikan harga tiket jika konflik berkepanjangan.
Selain itu, lonjakan lalu lintas udara juga berisiko membebani pengatur lalu lintas udara di Arab Saudi. Negara-negara yang menutup wilayah udaranya pun diperkirakan kehilangan pendapatan dari biaya lintas udara (overflight fees).
Mantan pejabat Federal Aviation Administration (FAA) AS yang kini menjadi profesor di Embry-Riddle Aeronautical University, Mike McCormick, menilai sebagian wilayah udara mungkin dapat dibuka kembali dalam 24–36 jam ke depan, bergantung pada perkembangan situasi militer.
“Negara-negara tersebut dapat menentukan wilayah mana yang aman untuk dibuka dan mana yang tetap ditutup, seiring semakin jelasnya aktivitas militer dan menurunnya kemampuan Iran meluncurkan serangan,” ujarnya.
Namun, belum ada kepastian berapa lama gangguan penerbangan ini akan berlangsung. FlightAware mencatat sedikitnya 145 pesawat yang menuju Tel Aviv dan Dubai dialihkan ke kota-kota seperti Athena, Istanbul, dan Roma. Bahkan, satu penerbangan dari Philadelphia sempat mengudara hampir 15 jam sebelum akhirnya berbalik arah dari Spanyol dan kembali ke titik awal keberangkatan.
(Shifa Nurhaliza Putri)