Soroti Macet, Sampah hingga Polusi Udara, Gubernur DKI Ingin Warga Jakarta Rasakan Kebijakan Iklim
Jakarta memiliki tantangan tersendiri sebagai kota metropolitan dengan mobilitas tinggi.
IDXChannel - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti persoalan macet, polusi udara dan sampah yang saling berkaitan dengan mobilitas serta kesehatan warga. Hal ini disampaikan Pramono ketika berbicara dalam Heat Roundtable di New York, Amerika Serikat.
Dia menyebut, Jakarta memiliki tantangan tersendiri sebagai kota metropolitan dengan mobilitas tinggi. Sebab setiap harinya, Ibu Kota kedatangan empat juta orang bergerak keluar-masuk Jakarta dari wilayah penyangga, terutama pada jam sibuk. Selain itu, Jakarta juga menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari.
“Persoalan kemacetan, polusi udara, dan sampah tidak berdiri sendiri. Ketiganya berkaitan langsung dengan mobilitas, kesehatan, serta kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kebijakan iklim Jakarta diarahkan agar menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan warga,” kata Pramono, Jumat (25/9/2026).
Dia menambahkan, aksi menghadapi perubahan iklim harus berangkat dari persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Upaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengurangi emisi, tetapi juga menghadirkan kota yang lebih bersih, sehat, terjangkau, dan nyaman dihuni.
“Aksi iklim harus memberikan manfaat nyata yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari melalui transportasi yang lebih bersih, ruang publik yang lebih baik, energi yang lebih bersih, serta kualitas hidup yang lebih baik,” katanya.
Dia melanjutkan, Jakarta terus mengembangkan transformasi transportasi publik, agar warga meninggalkan kendaraan pribadinya. Menurutnya, konektivitas transportasi publik Jakarta telah mencapai sekitar 93 persen.
“Kami sedang mengubah cara masyarakat bergerak melintasi Jakarta. Kami ingin menyediakan alternatif yang andal dan terjangkau selain kendaraan pribadi, sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi,” katanya.
Menurutnya, pembangunan transportasi publik tidak semata-mata untuk mengurangi kemacetan. Transportasi publik juga harus menjadi bagian dari solusi perubahan iklim sekaligus memperluas akses mobilitas masyarakat.
Untuk penanganan sampah, Pemprov DKI Jakarta telah mengeluarkan kebijakan gerakan pilah sampah. Jakarta juga mengembangkan fasilitas waste-to-energy (WTE) bersama pemerintah pusat.
Pramono mengatakan ketahanan iklim tidak hanya dibangun melalui proyek berskala besar, tetapi juga melalui perubahan cara kota mengelola mobilitas, energi, sampah, dan ruang publik.
“Kita tidak boleh melihat aksi iklim sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ukurannya sederhana: apakah udara menjadi lebih bersih, perjalanan menjadi lebih mudah, ruang publik menjadi lebih baik, dan lingkungan menjadi lebih sehat,” kata dia.
Pramono menambahkan, Jakarta terus belajar dari berbagai kota besar dunia dalam memperluas ruang terbuka hijau dan meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk menghadapi peningkatan suhu perkotaan.
Ia menegaskan, Jakarta terbuka untuk bertukar pengalaman dan bekerja sama dengan kota-kota lain dalam mencari solusi yang sesuai dengan karakter masing-masing.
“Jakarta siap berbagi praktik baik, belajar dari kota-kota lain, dan mewujudkan tujuan iklim bersama menjadi solusi yang praktis," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)