News

Trump Kembali Ancam Iran di Tengah Perundingan Damai di Swiss

Nia Deviyana 22/06/2026 06:52 WIB

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan kembali memulai perang dengan Iran.

Trump Kembali Ancam Iran di Tengah Perundingan Damai di Swiss. Foto: AP.

IDXChannel - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan kembali memulai perang dengan Iran. Hal itu terjadi bahkan di saat Wakil Presiden JD Vance bertemu pejabat Iran dalam pembicaraan pertama kesepakatan damai sementara yang dibayangi pengumuman penutupan kembali Selat Hormuz.

Pembicaraan di resor pegunungan milik Qatar di Buergenstock, Swiss, merupakan yang pertama dilakukan berdasarkan nota kesepahaman yang dicapai kedua pihak minggu lalu untuk mengakhiri perang, memperpanjang gencatan senjata setidaknya selama 60 hari.

Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penghentian semua permusuhan, termasuk di Lebanon, di mana Israel masih melancarkan serangannya.

Iran, dengan alasan bahwa AS gagal memenuhi komitmennya untuk menghentikan pertempuran di Lebanon, mengatakan akhir pekan ini bahwa mereka kembali menghentikan lalu lintas maritim di selat tersebut dan bahwa pembicaraan hari Minggu tidak akan membahas isu substansial seperti program nuklir Iran.

“Iran harus menghentikan kelompok-kelompok yang berada di bawah pengaruh atau dukungannya di Lebanon untuk berhenti melakukan aksi yang memicu konflik. Jika tidak, kami akan menghantam Iran sangat keras lagi, seperti minggu lalu, bahkan lebih keras,” tulis Trump di akun media sosialnya dilansir Reuters, Senin (22/6/2026).

Trump juga mengaku telah memperingatkan pejabat Iran bahwa penutupan Selat Hormuz dapat mengancam keberlangsungan negara mereka. Dia juga disebut mengancam akan mengambil alih jalur pelayaran strategis tersebut.


Dalam pembicaraan di Swiss, di mana pejabat AS dan Iran bertemu dengan mediator dari Qatar, Vance meremehkan dampak kekerasan di Lebanon dan mengatakan telah ada kemajuan menuju penghentian permusuhan di sana.

Meski Trump mengancam Iran, Vance mengatakan kepada wartawan bahwa presiden AS meminta membuka lembaran baru untuk mengubah hubungan dengan rakyat Iran.

Kedua pihak yang bertikai tidak melakukan sesi foto bersama. Sebelum Vance berbicara, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sempat masuk ruangan dan memeluk Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang menjadi mediator. Araqchi tidak berinteraksi secara publik dengan Vance.

Larut malam pada Minggu waktu setempat, diplomat AS mengatakan kepada Axios bahwa dalam pembicaraan tersebut telah ada kemajuan baik untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Pembicaraan juga berfokus pada penegakan gencatan senjata di Lebanon serta kesepakatan nuklir.

(NIA DEVIYANA)

SHARE