News

UTBK SNBT 2026 di UNJ Hari Pertama Lancar, Panitia Belum Temukan Praktik Kecurangan

Niko Prayoga 21/04/2026 16:32 WIB

Kesiapan tahun ini merupakan hasil evaluasi masif dari banyaknya temuan kasus kecurangan pada tahun-tahun sebelumnya. 

UTBK SNBT 2026 di UNJ Hari Pertama Lancar, Panitia Belum Temukan Praktik Kecurangan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Pelaksanaan hari pertama Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terpantau berjalan kondusif. 

Hingga berakhirnya sesi pertama, pihak panitia mengonfirmasi bahwa belum ditemukan adanya praktik kecurangan yang dilakukan peserta di lokasi ujian.

Anggota tim Penanggung Jawab Panitia SNPMB Pusat, Tjitjik Srie Tjahjandarie, memastikan bahwa pihaknya akan terus melakukan pengawasan dan monitoring guna mencegah adanya kecurangan.

"Alhamdulillah, sesi 1 lancar. Tidak ada indikasi-indikasi kecurangan di sesi 1. Tapi kan ini kita tetap melakukan monitoring yang cukup ketat, pelaksanaannya juga pengawasannya juga menjadi lebih aware untuk setiap UTBK, karena kan kita masih punya sesi-sesi yang selanjutnya," kata Tjitjik saat diwawancarai di UNJ, Selasa (21/4/2026).

Tjitjik mengungkapkan bahwa kesiapan tahun ini merupakan hasil evaluasi masif dari banyaknya temuan kasus kecurangan pada tahun-tahun sebelumnya. 

Bahkan, panitia pusat tahun ini telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi identitas peserta. Sehingga meminimalisir adanya kecurangan dengan modus “joki ujian”.

"Tahun ini pun misalnya kita itu sudah punya data anomali, ada 2.940 data anomali. Nah, ini kan sebenarnya kita bagikan kepada masing-masing pusat UTBK. Mulai tahun ini, kita melakukan deteksi dengan menggunakan teknologi AI. Jadi kita bisa mendeteksi wajah, kalau kemudian misalnya ada kecurangan dalam bentuk joki," ungkap dia.

Tjitjik menjelaskan, teknologi ini mampu melacak rekam jejak seseorang yang menjadi joki ujian di setiap tahunnya. 

“Kita juga melakukan deteksi AI wajah itu pada peserta tahun yang lalu. Ternyata ada modus-modus yang joki tahun lalu ternyata sekarang juga menjadi joki lagi,” jelas Tjitjik.

Sementara itu, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni UNJ, Prof. Dr. Ifan Iskandar, menegaskan bahwa pihaknya juga telah menerapkan pemeriksaan secara ketat kepada para peserta. 

Mereka dilarang membawa barang personal seperti handphone dan lainnya ke dalam ruang ujian.

"Peserta itu praktis kan tidak perlu membawa apa pun di dalam ruang ujian karena mereka hanya perlu menandatangani album kehadiran, selebihnya kan menggunakan komputer. Tidak ada peralatan yang sifatnya personal yang diperkenankan dibawa masuk kecuali mungkin obat-obat yang memang diperlukan untuk kondisi tertentu," tegas Ifan.

Di sisi lain, pemeriksaan lebih kelat juga digunakan menggunakan metal detector sebagai standar wajib di UNJ guna mendeteksi alat elektronik kecil yang kerap disalahgunakan. Langkah antisipatif itu juga berdasarkan pengalaman UNJ selama bertahun-tahun dalam menangani kecurangan seperti modus perangkat yang disembunyikan di area sensitif.

"Pemeriksaan ini sudah kami lakukan selama 6-7 tahun terakhir dan memang kami menemukan alat bantu yang digunakan oleh peserta yang melakukan kecurangan mulai dari yang sifatnya ditempel di anggota tubuh atau yang ditanam di sekitar telinga peserta. Jadi dengan ditemukannya kecurangan itu di kami di UNJ dalam beberapa tahun terakhir maka kami sudah mengantisipasi dengan cara yang seperti itu," pungkas dia.


(Nadya Kurnia)

SHARE