Sinergi BI-OJK Dorong Peran Ekonomi dan Keuangan Syariah RI
Sektor syariah juga diproyeksi mampu menjadi mesin penggerak dan pendorong ekonomi potensial yang memiliki daya saing global.
IDXChannel - Fundamental ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dinilai mampu mendongkrak pertumbuhan maupun stabilitas ekonomi nasional.
Selain itu, sektor syariah juga diproyeksi mampu menjadi mesin penggerak dan pendorong ekonomi potensial yang memiliki daya saing global.
Bank Indonesia (BI), melalui Blueprint Ekonomi dan Keuangan Syariah (Eksyar) 2030, mendorong percepatan integrasi Halal Value Chain (HVC) dengan sistem pembiayaan syariah yang lebih dalam, inovatif, dan produktif untuk mewujudkan kontribusi ekonomi dan keuangan syariah lebih optimal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional.
Secara garis besar, blueprint berkutat soal penguatan ekosistem rantai nilai halal yang terintegrasi dan berdaya saing, optimalisasi pembiayaan syariah, dan perluasan literasi dan inklusi ekonomi dan keuangan syariah.
Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Imam Hartono, mengatakan, sektor ekonomi dan keuangan syariah menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global.
Seperti pada 2025, capaian HVC tumbuh 6,2 persen (yoy), yang didorong peningkatan kinerja pada sektor dan makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, dan modest fashion.
"Strategi ini tidak hanya ditujukan untuk memperkuat kontribusi sektor syariah terhadap pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, tetapi juga untuk mengakselerasi langkah Indonesia menuju pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia," kata Imam dalam sambutannya pada seminar Sharia Economic and Financial Outlook (ShEFO) 2026 di Bank Indonesia, Jakarta (13/2/2026).
Seminar ShEFO merupakan salah satu rangkaian program Bank Indonesia dalam upaya memperkuat ekonomi syariah. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan peluncuran Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2025, serta Kick-Off Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja industri syariah terus menujukkan pertumbuhan positif. Salah satunya bisa dilihat dari torehan pertumbuhan yang ditopang dari rantai nilai halal berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yakni hingga 155 basis poin, dari sebelumnya 25,45 persen pada 2024 menjadi 27 persen di tahun 2025.
Adapun pada 2025, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,66 persen (yoy), didukung penyaluran Insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp35 triliun atau 4,49 persen dari batas 5,55 persen per Desember 2025, serta berbagai program akselerasi pembiayaan.
Dalam implementasi Blueprint Eksyar 2030, BI senantiasa bersinergi dengan lintas pemangku kepentingan dan dorongan pelaku usaha. Sejalan dengan itu, BI terlibat dalam peluncuran Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) 2026, yang ditujukan sebagai wadah kolaborasi strategis lintas kementerian, lembaga, dan industri keuangan syariah untuk memperkuat akses pembiayaan sektor riil, ditandai dengan penandatanganan komitmen sinergi bersama 10 kementerian/lembaga, yaitu BI, KNEKS, OJK, Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, Kementerian Agama, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian ATR/BPN.
Adapun, tahun ini BPS diperkuat untuk menjangkau UMKM, start-up, dan industri halal melalui keterlibatan perbankan syariah, Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) syariah, serta sektor keuangan sosial syariah, didukung optimalisasi platform digital business matching.
Kinerja pembiayaan syariah juga didukung oleh berbagai program akselerasi, termasuk BPS yang pada 2025 mencatat realisasi Rp939 miliar atau 60 persen di atas target Rp589 miliar.
"Bank Indonesia bersama OJK dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat transformasi sektor syariah sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tahan," tutur Imam.
Kinerja positif juga bisa dilihat dari peningkatan pemanfaatan instrumen lindung nilai syariah yang tumbuh 86,5 persen (yoy) menjadi USD466 juta. Di sektor keuangan sosial, penyaluran ZIS melalui BAZNAS hingga Triwulan II-2025 mencapai Rp52,5 triliun, meningkat 43 persen (ytd) dibandingkan 2024 sebesar Rp36,8 triliun.
Kemudian, Inovasi blended finance melalui Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga tumbuh 22 persen (yoy) dengan outstanding akhir 2025 sebesar Rp1,4 triliun. Peningkatan kinerja tersebut turut ditopang oleh penguatan literasi ekonomi dan keuangan syariah yang kini mencapai 50,18 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan 2023.
Melalui implementasi Blueprint Eksyar 2030 yang berfokus pada penguatan rantai nilai halal, optimalisasi pembiayaan, serta perluasan literasi dan inklusi, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat transformasi sektor syariah sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tahan.
Sementara itu, Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah OJK, Ayahandayani Kussetyowati, mengatakan, industri perbankan syariah mencatat kinerja membanggakan sepanjang 2025.
Total aset mencapai all time high atau tertinggi sepanjang masa pada posisi Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92 persen (yoy).
Sisi pembiayaan juga menunjukkan kinerja baik dengan nilai pembiayaan mencapai Rp705,22 triliun atau tumbuh 9,58 persen (yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp892,99 triliun atau tumbuh 10,14 persen (yoy).
OJK pun optimistis tren positif ini berlanjut pada 2026, seiring prospek pertumbuhan ekonomi nasional, dengan tetap mencermati risiko geopolitik dan ketidakpastian global.
(kunthi fahmar sandy)