Technology

Akan Meluncur 2027, BRIN Beberkan Keunggulan dan Kegunaan Satelit NEO-1

Niko Prayoga 08/07/2026 13:53 WIB

Beberapa kelebihan yang dimiliki observasi bumi nasional kelas kecil atau minisatelit ini adalah kemampuan pencitraan beresolusi tinggi dan menengah. 

Akan Meluncur 2027, BRIN Beberkan Keunggulan dan Kegunaan Satelit NEO-1. (Foto: MNC Media)

IDXChannelBadan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan meluncurkan satelit terbaru bernama Nusantara Earth Observation Satellite 1 (NEO-1) tahun depan. Satelit tersebut memiliki beberapa keunggulan yang berdampak positif di berbagai sektor. 

Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan beberapa kelebihan yang dimiliki observasi bumi nasional kelas kecil atau minisatelit ini adalah kemampuan pencitraan beresolusi tinggi dan menengah. 

Tidak hanya itu, satelit ini menggabungkan fungsi observasi Bumi dengan penerima Automatic Identification System (AIS) untuk pemantauan kapal, serta dilengkapi dengan muatan optik kanal visible dan thermal infrared.

Semua proses krusial, mulai dari perancangan misi, desain sistem, integrasi, pengujian, perangkat lunak (software), hingga operasi satelit dan dukungan stasiun bumi, dilakukan sepenuhnya di Indonesia. Hal ini menegaskan langkah besar Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.

“NEO-1 ini mengandung TKDN kurang lebih sekitar 65 persen dan sekali lagi itu merupakan salah satu kebanggaan dari kita semua sebagai bangsa Indonesia,” kata Arif dalam sambutannya pada Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Kantor Pusat BRIN, Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Selain itu, ia menjelaskan bahwa satelit ini juga diperuntukkan untuk mendukung pemetaan wilayah, pemantauan pertanian, kehutanan, kelautan, hingga mitigasi bencana. 

Tak sampai di situ, pemantauan lingkungan, bahkan aktivitas kapal melalui AIS juga dapat dilakukan oleh satelit tersebut. Bahkan, satelit NEO-1 bisa mendukung kebutuhan pemerintah dalam hal riset, industri serta pelayanan publik berbasis satelit.

“Dan peruntukan satelit ini guna mendukung penyediaan data citra satelit nasional dan digunakan untuk pemetaan wilayah, pemantauan pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, pemantauan lingkungan, dan pemantauan aktivitas kapal melalui AIS,” ucap dia.

Lebih lanjut, Arif mengungkapkan bahwa peluncuran satelit itu menjadi upaya Indonesia untuk mewujudkan kemandirian dalam segi antariksa serta kedaulatan digital yang bisa memberikan dampak ekonomi terhadap Indonesia. 

Menurutnya, kemandirian bukan hanya sekadar memiliki satelit, tetapi juga bisa merancang, membangun, meluncurkan, bahkan mengoperasikan satelit milik sendiri.

“Peluncuran Neo-1 ini akan menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu menguasai seluruh rantai teknologi satelit, mulai dari perancangan, integrasi, pengujian, hingga operasi misi satelit,” ungkap Arif.

Meski demikian, ia menuturkan bahwa Indonesia dihadapkan pada realitas tantangan global yang semakin ketat di ruang angkasa. Saat ini, kawasan Low Earth Orbit (LEO) kian padat seiring menjamurnya konstelasi satelit global. 

Kondisi tersebut meningkatkan risiko tabrakan, penumpukan sampah antariksa, serta persaingan ketat dalam perebutan slot orbit dan spektrum frekuensi.

Terlebih lagi, tata kelola internasional saat ini masih menganut prinsip first-come, first-served. Artinya, negara atau korporasi yang lebih cepat meluncurkan asetnya akan memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat di mata hukum internasional.

“Oleh karena itu, Indonesia perlu segera menyusun peta jalan nasional pengelolaan slot orbit dan spektrum, termasuk strategi pengembangan konstelasi satelit nasional, perlindungan aset satelit, penguatan diplomasi internasional, serta kebijakan yang menjamin keberlanjutan operasi satelit nasional. Langkah ini sangat penting agar kepentingan nasional Indonesia tetap terlindungi di tengah kompetisi global yang semakin dinamis,” tutur dia.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa ke depannya, tolok ukur kesuksesan program keantariksaan Indonesia tidak lagi sekadar dihitung dari jumlah perangkat yang mengorbit di luar angkasa. Lebih dari itu, dampaknya harus dirasakan langsung oleh masyarakat luas.


(Nadya Kurnia)

SHARE