Belanja Modal AI Membengkak, Arus Kas Raksasa Teknologi AS Terancam
Perusahaan hyperscaler asal Amerika Serikat (AS) mulai memetik hasil dari investasi kecerdasan buatan (AI).
IDXChannel — Perusahaan hyperscaler asal Amerika Serikat (AS) mulai memetik hasil dari investasi kecerdasan buatan (AI).
Kendati demikian, lonjakan biaya pembangunan infrastruktur mulai menggerogoti free cash flow atau arus kas bebas mereka dan memicu kekhawatiran para investor.
Dilansir dari Investing pada Rabu (22/7/2026), hyperscaler adalah raksasa teknologi yang melakukan investasi AI secara besar-besaran.
Berdasarkan analisis Reuters terhadap estimasi konsensus LSEG, tahun depan, total belanja modal (capex) kelompok raksasa teknologi yang terdiri dari Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Oracle bakal lebih besar dibandingkan arus kas bebas yang mereka hasilkan.
Data menunjukkan bahwa kelima perusahaan tersebut diperkirakan menghasilkan tambahan arus kas operasional tahunan sekitar USD340 miliar (sekitar Rp5.542 triliun) pada 2027 dibanding 2025.
Namun, capex mereka melambung jauh lebih tinggi, yakni melonjak USD534 miliar (sekitar Rp8.704 triliun). Angka ini setara dengan pengeluaran modal tambahan sebesar USD1,57 untuk setiap tambahan arus kas sebesar USD1.
Kondisi ini menandai pergeseran besar pada peta bisnis raksasa teknologi yang selama ini dikenal sangat efisien.
"Investor meremehkan betapa fundamentalnya AI mengubah model bisnis Big Tech," kata Chief Market Strategist Futurum Equities Shay Boloor.
Konsensus LSEG mencatat estimasi belanja modal kelima emiten tersebut untuk tahun berjalan telah membengkak dari USD485 miliar (sekitar Rp7.905 triliun) pada Januari menjadi USD730 miliar (sekitar Rp11.899 triliun) per Juli.
Sejumlah indikator sebenarnya menunjukkan bahwa komersialisasi AI mulai berjalan. Bisnis AI Microsoft telah melampaui run rate pendapatan tahunan USD37 miliar (sekitar Rp603,1 triliun), sementara unit AWS milik Amazon mencatatkan pertumbuhan 28 persen pada kuartal pertama.
Meski demikian, pasar mengkhawatirkan daya tahan arus kas jika pengeluaran capex terus membumbung tinggi. Sebagai gambaran, Microsoft membukukan arus kas operasional USD35,8 miliar (sekitar Rp583,5 triliun) pada kuartal kedua fiskalnya, sementara belanja modalnya mencapai USD37,5 miliar (sekitar Rp611,25 triliun).
"Pertumbuhan laba mungkin tidak cukup untuk membenarkan investasi jika capex menguras kas. Perusahaan ada untuk menghasilkan uang, bukan menghabiskan uang," kata Global Head of Market Strategy TradeStation David Russell.
Tekanan paling nyata terlihat pada Oracle. Saham perusahaan tersebut telah merosot 36 persen sepanjang tahun ini seiring arus kas bebasnya yang berbalik negatif. Rasio capex terhadap arus kas operasional Oracle melonjak tajam dari 47 persen pada tahun fiskal 2022 menjadi 174 persen pada tahun fiskal 2026. Oracle bahkan berencana menggalang dana USD45 miliar hingga USD50 miliar (sekitar Rp733,5 triliun hingga Rp815 triliun) melalui utang dan ekuitas demi membiayai ekspansi infrastruktur cloud.
Sejauh ini, Microsoft, Alphabet, dan Meta masih menghasilkan arus kas bebas yang cukup untuk menutup dividen dan aksi buyback saham. Namun, program pengembalian dana ke pemegang saham tersebut dinilai berpotensi terancam jika monetisasi AI memakan waktu lebih lama dari perkiraan. (Reporter: Sheqilla Sukma) (Wahyu Dwi Anggoro)