Technology

Dirut Telkom Sebut Infrastruktur dan Keamanan Digital Jadi Fondasi Industri AI Masa Depan

Rahmat Fiansyah 29/10/2026 12:15 WIB

Telkom menilai penguatan konektivitas, pusat data, dan ekosistem AI menjadi fondasi penting dalam membangun industri AI masa depan.

Telkom menilai penguatan konektivitas, pusat data, dan ekosistem AI menjadi fondasi penting dalam membangun industri AI masa depan. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menilai penguatan konektivitas, pusat data, dan ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi fondasi penting dalam membangun industri AI masa depan. Infrastruktur tersebut perlu didukung keamanan digital, ketersediaan energi, serta kepastian regulasi agar Indonesia mampu menangkap peluang industri global.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampaikan hal tersebut dalam sesi pleno bertajuk "The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?" pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026, Selasa (27/10). Diskusi tersebut membahas teknologi yang berpotensi membentuk industri global berikutnya dari perspektif digital, bisnis, dan pengembangan infrastruktur.

Dalam sesi yang dipandu Managing Director of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia Irwan Rei tersebut, Nanang berdialog dengan Executive Director sekaligus CEO JINGDONG Coinlink Technology Hong Kong Limited Teddy Liu dan Senior Director of International Business Development AtkinsRéalis Sara Supaamornkul.

Nanang menjelaskan, AI berpotensi menjadi layanan yang digunakan secara luas. Karena itu, peluang bisnisnya tidak hanya terletak pada penjualan teknologi, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur yang menopang penggunaannya. Sejak 2022, biaya per kueri AI disebut telah turun sekitar 280 kali, sementara penggunaan AI di Google meningkat hingga tujuh kali lipat dalam satu tahun. Penurunan biaya tersebut membuka peluang peningkatan konsumsi sekaligus memperbesar kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung.

“Peluang terbesar bukan sekadar menjual AI per unit, melainkan membangun infrastruktur yang menopang penggunaannya secara luas. Ketika biaya penggunaan semakin rendah, konsumsi dapat tumbuh lebih cepat. Karena itu, nilai ekonomi akan semakin ditentukan oleh kemampuan menyediakan infrastruktur dan kepercayaan yang dibutuhkan agar AI dapat digunakan secara luas,” ujar Nanang, Kamis (29/10/2026).

Meski adopsi AI terus meningkat, penciptaan nilai bisnis masih menjadi tantangan. Dalam paparannya, Nanang menyampaikan bahwa 95 persen proyek percontohan (pilot) AI generatif belum memberikan dampak terhadap laba-rugi perusahaan. Sementara itu, hanya 25 persen perusahaan yang mencapai tingkat pengembalian investasi (return on investment/ROI) sesuai harapan.

Integrasi AI ke dalam alur kerja perusahaan juga masih terbatas. Baru 21 persen perusahaan yang mendesain ulang proses kerjanya untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa adopsi AI perlu diikuti perubahan proses bisnis dan didukung lima faktor agar dapat berkembang menjadi industri berkelanjutan, yakni biaya yang terjangkau, permintaan pasar, penyesuaian alur kerja, ekosistem mitra dan pengembang, serta kepastian standar dan regulasi.

Berdasarkan analisis terhadap potensi pembentukan industri, terdapat lima kandidat industri global masa depan. Kelimanya meliputi konektivitas terintegrasi yang mencakup darat, laut, udara, dan edge AI; pusat data AI berskala besar yang didukung komputasi dan energi andal; infrastruktur kepercayaan digital; ekonomi berbasis agen AI (agentic economy); serta layanan otonom berbasis AI (Autonomous-as-a-Service) untuk sektor industri dan pemerintahan. Dua bidang pertama merupakan kapabilitas inti Telkom, sedangkan tiga bidang lainnya menjadi area yang berpotensi besar untuk dikembangkan.

Sebagai perusahaan digital telco terdepan di Indonesia, Telkom membangun fondasi tersebut melalui pengembangan konektivitas, pusat data, serta platform dan aplikasi AI. Perseroan memiliki kapasitas satelit sebesar 42,2 Gbps, jaringan serat optik dan kabel laut sepanjang lebih dari 211 ribu kilometer, serta 58 titik kehadiran internasional (international Points of Presence/PoPs).

Di sisi komputasi, NeutraDC mengoperasikan kapasitas pusat data sebesar 48,4 MW per kuartal III-2026 di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan aspirasi ekspansi hingga 1 gigawatt. Pengembangan infrastruktur pusat data juga perlu didukung ketersediaan energi dan sistem pendinginan yang andal untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus berkembang.

Sementara itu, melalui Model Hub, Telkom menyediakan akses dan tata kelola model AI global, berdaulat, maupun yang dirancang untuk kebutuhan industri tertentu. Platform tersebut sekaligus mendukung pengembangan aplikasi dan kasus penggunaan (use case) AI.

Keseriusan TelkomGroup dalam membangun ekosistem digital nasional juga tercermin melalui peluncuran inisiatif pengembangan Sovereign Digital Technology pada hari pertama DTIIF 2026. Inisiatif ini mencakup empat kapabilitas strategis, yakni AI Ready Data Center, AI ModelHub, National IoT Platform, dan PaDiSera. Keempatnya mengintegrasikan infrastruktur komputasi, pengembangan AI, konektivitas perangkat, serta perluasan akses pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pengembangan tersebut sejalan dengan upaya TelkomGroup mendukung kemandirian teknologi Indonesia sekaligus memperluas manfaat ekonomi digital bagi berbagai sektor.

“Telkom membangun tiga fondasi utama untuk mendukung perkembangan industri AI, yaitu konektivitas terintegrasi, pusat data berskala besar, serta gerbang model AI dan pengembangan aplikasi. Konektivitas menghubungkan pengguna, pusat data menyediakan kapasitas komputasi, sedangkan ModelHub menghadirkan akses dan tata kelola model AI untuk berbagai kebutuhan. Dengan menghubungkan ketiganya, Telkom dapat menghadirkan kapabilitas teknologi yang relevan bagi pelanggan dan membuka peluang pengembangan layanan baru,” kata Nanang.

Pengembangan industri AI membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah berperan menetapkan regulasi, termasuk terkait kedaulatan data dan identitas agen AI. Perusahaan telekomunikasi dan infrastruktur digital menyediakan konektivitas serta komputasi yang andal, sedangkan pengembang teknologi dan startup menghadirkan solusi sesuai kebutuhan pasar.

Selain itu, talenta dengan keahlian dalam pengembangan dan integrasi AI dibutuhkan agar teknologi dapat diterapkan secara efektif. Di sisi lain, UMKM dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, layanan, dan penjualan.

Nanang juga menilai investasi berjangka panjang sangat penting untuk membangun fondasi industri yang membutuhkan waktu sebelum menghasilkan keuntungan. Di pasar berkembang seperti Indonesia, investasi perlu dilakukan sebelum permintaan terbentuk. Hal tersebut perlu didukung ketersediaan energi yang andal, kepastian perizinan dan regulasi, serta penciptaan permintaan awal.

“Industri global berikutnya tidak hanya dibangun oleh pihak yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh mereka yang bersedia membangun fondasinya sebelum permintaan pasar terbentuk. Indonesia memiliki kebutuhan dan infrastruktur digital sebagai modal awal. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kapabilitas, membangun kolaborasi, dan mengembangkan industri yang mampu bersaing di tingkat global. Teknologi yang kita bangun hari ini akan menjadi industri global masa depan,” pungkasnya.

(Rahmat Fiansyah/ADV)

SHARE