Technology

Margin Keuntungan Seret, Saham Chip AI Cerebras Ambles 14 Persen Sebelum Pembukaan

Kurnia Nadya 25/06/2026 12:02 WIB

Pemicu utama aksi jual investor adalah target margin laba kotor penyesuaian (adjusted gross margin) Cerebras untuk keseluruhan tahun penuh 2026.

Margin Keuntungan Seret, Saham Chip AI Cerebras Ambles 14 Persen Sebelum Pembukaan. (Foto: Istimewa)

IDXChannelSaham perancang chip kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) asal AS, Cerebras, tumbang sekitar 14 persen pada perdagangan pra-pasar (pre-market) Wall Street, Rabu (24/6/2026). 

Penurunan harga ini terjadi setelah manajemen merilis laporan keuangan perdana pasca-IPO yang memuat proyeksi penurunan margin keuntungan.

Melansir CNA (25/6/2026), jika koreksi ini terus berlanjut hingga pembukaan perdagangan, saham Cerebras diproyeksikan bakal menyentuh level terendahnya sejak melantai di bursa efek lebih dari sebulan lalu. 

Kejatuhan ini sekaligus berpotensi menghapus kapitalisasi pasar perusahaan hingga lebih dari USD6 miliar (sekitar Rp98,4 triliun).

Pemicu utama aksi jual investor adalah target margin laba kotor penyesuaian (adjusted gross margin) Cerebras untuk keseluruhan tahun penuh 2026 yang dipatok di kisaran 38-41 persen. 

Angka ini menyusut signifikan dibandingkan capaian margin kuartal I-2026 yang sempat menyentuh 47 persen.

Meski proyeksi internal ini masih berada di atas ekspektasi konsensus analis yang sebesar 29,58 persen, angka tersebut dinilai jauh tertinggal dibandingkan para kompetitor di sektor chip AI. 

Sebagai perbandingan, sang raksasa Nvidia konsisten mengantongi margin laba kotor di kisaran pertengahan 70 persen, sementara Advanced Micro Devices (AMD) berada di kisaran pertengahan 50 persen.

Analis pasar modal mencatat bahwa margin laba kotor Cerebras tertekan oleh tingginya biaya manufaktur karena ukuran fisik chip yang relatif lebih besar. 

Selain itu, perusahaan terpaksa menyewa kembali (rent back) sistemnya sendiri dari klien yang sudah ada demi memenuhi lonjakan permintaan jangka pendek sembari membangun kapasitas pusat data (data center) baru.

Sejak debut perdana di bursa saham, harga saham emiten yang berbasis di California ini telah merosot lebih dari 27 persen. 

Penurunan ini mencerminkan mulai mendinginnya euforia investor terhadap saham-saham sektor AI karena pasar mulai mengkhawatirkan besarnya belanja modal yang digelontorkan perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur baru.

Meski demikian, sejumlah institusi keuangan global tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang Cerebras berkat kerja sama strategis dengan para raksasa teknologi dunia.

Cerebras berhasil mengamankan kontrak tahun jamak senilai USD20 miliar dengan OpenAI. CEO Cerebras, Andrew Feldman, mengonfirmasi bahwa model AI terbaru GPT 5.4 kini dijalankan menggunakan chip milik Cerebras. 

Produsen ChatGPT tersebut siap mengerahkan infrastruktur semikonduktor berdaya 750 megawatt di bawah kesepakatan ini.

Amazon Web Services juga disebut akan segera mengadopsi chip Cerebras di pusat data mereka, dengan arus pendapatan (revenue flow) yang diproyeksikan mulai mengalir pada tahun depan.

Merespons potensi jangka panjang tersebut, Morgan Stanley justru menaikkan target harga saham Cerebras dari USD250 menjadi USD273 per saham. Senada, lembaga riset TD Cowen menilai kesepakatan besar bersama Amazon dan OpenAI akan menjadi mesin pertumbuhan utama bagi kinerja keuangan Cerebras di masa depan.


(Nadya Kurnia)

SHARE