IDXChannel - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menghimpun dana sebesar Rp17,01 triliun dari penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel jenis Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015.
Total pemesanan pembelian instrumen investasi ini menembus angka Rp17.007.306.000.000 (Rp17,01 triliun) sepanjang masa penawaran yang dibuka sejak 28 September hingga 22 Oktober 2026.
Merujuk penetapan hasil penjualan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, penyerapan dana tersebut terbagi atas seri SBR015T2 sebesar Rp13,60 triliun dan seri SBR015T4 sebesar Rp3,40 triliun.
"Dana hasil penjualan SBR015 tersebut akan dipergunakan untuk pemenuhan target pembiayaan APBN tahun 2026 dan perubahannya," tulis pengumuman DJPPR Kemenkeu, dikutip Selasa (27/10/2026).
Pada penerbitan instrumen pembiayaan kali ini, pemerintah menyodorkan dua opsi tenor dengan besaran imbal hasil yang variatif. Seri SBR015T2 bertenor dua tahun dipatok dengan kupon 6,75 persen per tahun, sedangkan seri SBR015T4 bertenor empat tahun menawarkan kupon 6,85 persen per tahun.
Penentuan tingkat kupon tersebut disesuaikan dengan dinamika pasar keuangan global maupun domestik yang bergerak fluktuatif, sekaligus menjaga agar instrumen SBR015 tetap kompetitif dan memikat bagi para pemodal domestik.
Dari sisi serapan pasar, penawaran SBR015 berhasil menjaring partisipasi 62.529 investor. Komposisi ini mencakup 51.702 pemodal pada seri SBR015T2 dan 14.156 pemodal di seri SBR015T4, termasuk 3.329 investor yang memesan kedua seri tersebut secara bersamaan.
Penerbitan ini juga memperlihatkan perluasan basis pemodal baru. Sebanyak 19.583 investor tercatat sebagai pemodal baru di instrumen Surat Utang Negara (SUN) ritel, sementara 12.809 investor terdata sebagai pemodal baru pada kategori SBN ritel.
Berdasarkan kelompok umur, generasi milenial tampil dominan dari sisi kuantitas dengan porsi mencapai 49,84 persen dari total investor. Kendati demikian, generasi X menjadi penyumbang dana terbesar dari segi nominal pemesanan dengan kontribusi 38,38 persen, dibayangi oleh kelompok generasi baby boomers sebesar 31,97 persen.
Ditinjau dari profil pekerjaan, pegawai swasta mencatatkan jumlah pemodal terbanyak dengan porsi 34,36 persen. Namun, nilai nominal pemesanan terbesar justru dikontribusikan oleh kalangan wiraswasta dengan pangsa 32,10 persen. Keterlibatan perempuan pun tampak mencolok, di mana investor perempuan menguasai 58,32 persen dari total jumlah investor sekaligus menyumbang 50,68 persen dari keseluruhan nilai pemesanan.
Pada kanal penjualan, mitra distribusi perbankan masih memegang pangsa dominan, baik berdasarkan akumulasi volume pemesanan maupun jumlah investor. Kendati begitu, keterlibatan perusahaan teknologi finansial (fintech) dan sekuritas memainkan peran krusial dalam memperdalam penetrasi pasar SBN ritel, terutama dalam memperluas jangkauan ke investor skala mikro dan pemodal pemula.
Keberhasilan penyerapan dana SBR015 ini turut disokong oleh gencarnya program edukasi serta kampanye literasi keuangan yang dijalankan pemerintah secara bauran (daring dan luring), yang dibarengi pemanfaatan saluran media sosial demi menyebarluaskan informasi produk investasi ini secara masif kepada masyarakat.
(NIA DEVIYANA)