sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Hilirisasi Bauksit Jadi Pijakan Pengembangan Mineral Strategis Indonesia

Foto editor Yudistiro Pranoto
10/08/2026 04:39 WIB
Indonesia terus memperkuat hilirisasi bauksit sebagai bagian dari transformasi sumber daya mineral menjadi fondasi industri nasional bernilai tambah
Bagi MIND ID, pengembangan hilirisasi tidak berhenti pada produk utama.
Bagi MIND ID, pengembangan hilirisasi tidak berhenti pada produk utama.
Bagi MIND ID, pengembangan hilirisasi tidak berhenti pada produk utama. Bagi MIND ID, pengembangan hilirisasi tidak berhenti pada produk utama. Bagi MIND ID, pengembangan hilirisasi tidak berhenti pada produk utama.

IDXChannel — Indonesia terus memperkuat hilirisasi bauksit sebagai bagian dari transformasi sumber daya mineral menjadi fondasi industri nasional bernilai tambah. Pengembangan hilirisasi kini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pembangunan ekosistem industri terintegrasi, penguatan rantai pasok, serta optimalisasi setiap proses pengolahan mineral.

Penguatan rantai pasok tersebut ditandai dengan pelepasan ekspor 3.013,5 ton Alumina Hydroxide dan 1.740 ton Alumina Oxide atau Chemical Grade Alumina (CGA) dari Pelabuhan Dwikora, Pontianak, Kalimantan Barat, menuju Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Tiongkok. Ekspor tersebut menunjukkan produk bernilai tambah hasil hilirisasi bauksit Indonesia telah menjangkau pasar global.

Bagi MIND ID, pengembangan hilirisasi tidak berhenti pada produk utama. Proses pengolahan mineral juga membuka peluang pemanfaatan mineral ikutan dan produk samping, termasuk untuk pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE). Potensi LTJ dapat ditemukan pada mineral alami maupun sumber non-konvensional, seperti residu bauksit, terak nikel, dan produk samping pengolahan timah.

Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan pengembangan LTJ membutuhkan kepastian regulasi, khususnya karena sejumlah unsur tersebut hadir sebagai unsur ikutan dalam kadar sangat rendah. Menurutnya, diperlukan ambang batas kandungan yang jelas dan proporsional untuk membedakan LTJ sebagai mineral utama dan unsur ikutan dalam komoditas ekspor. “Jika Indonesia mampu memisahkan LTJ dari mineral ikutannya secara ekonomis dan efisien, sesungguhnya Indonesia sudah menjadi negara pengolah LTJ,” ujar Dany.

Untuk membangun kemampuan tersebut, MIND ID bersama Badan Industri Mineral (BIM) dan didukung BRIN tengah menyusun roadmap teknologi pengolahan dan pemurnian LTJ nasional, termasuk pemetaan sumber bahan baku dan teknologi yang dibutuhkan. Pengembangan LTJ dinilai strategis karena digunakan dalam berbagai industri masa depan, seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik, hingga manufaktur berteknologi tinggi. “MIND ID terus membuka ruang kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kemandirian industri nasional sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia,” kata Dany.

Advertisement
Advertisement