AALI
10000
ABBA
212
ABDA
0
ABMM
825
ACES
1425
ACST
254
ACST-R
0
ADES
1640
ADHI
1050
ADMF
8000
ADMG
162
ADRO
1185
AGAR
414
AGII
1035
AGRO
880
AGRO-R
0
AGRS
545
AHAP
68
AIMS
510
AIMS-W
0
AISA
256
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
560
AKRA
3130
AKSI
755
ALDO
815
ALKA
240
ALMI
236
ALTO
326
Market Watch
Last updated : 2021/05/17 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
462.85
-1.35%
-6.35
IHSG
5833.86
-1.76%
-104.49
LQ45
869.49
-1.52%
-13.44
HSI
28194.09
0.59%
+166.49
N225
27824.83
-0.92%
-259.64
NYSE
16415.36
1.45%
+233.76
Kurs
HKD/IDR 1,836
USD/IDR 14,280
Emas
850,841 / gram

Raup Keuntungan dari Minyak Jelantah, Milenial Ini Sukses Gaet Perusahaan Asing

INSPIRATOR
Aditya Pratama/iNews
Sabtu, 17 April 2021 13:47 WIB
Andi Hilmi adalah salah satu pengusaha asal Makassar yang telah mempunyai usaha biodiesel berskala industri bernama GenOil sebelum berusia 21 tahun.
Raup Keuntungan dari Minyak Jelantah, Milenial Ini Sukses Gaet Perusahaan Asing (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Andi Hilmi adalah salah satu pengusaha asal Makassar yang telah mempunyai usaha biodiesel berskala industri bernama GenOil sebelum berusia 21 tahun.

Andi terpikir untuk membuat biodiesel dari minyak jelantah karena ketika itu terjadi kelangkaan BBM yang hampir merata di Indonesia. Tak jauh dari kotanya, banyak nelayan tak bisa melaut, karena tak kebagian bahan bakar.

“Saya berusaha mencari pengganti energi terbarukan agar bisa digunakan oleh para nelayan. Prinsip saya, karya yang kita buat harus sesuai dengan kebutuhan pada saat itu. Ketika itu, biodiesel bisa menjawab masalah kelangkaan bahan bakar yang mengancam kedaulatan energi di masa mendatang,” ujar Andi.

Dia mengaku, dalam satu bulan bisa meraih omzet sekitar Rp200 juta. Untuk menjalin jejaring, Andi pernah bergabung dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dimana tujuan Andil untuk mencari teman-teman yang memiliki visi serupa.

Pada forum-forum tersebut, Andi mendapatkan banyak teman dari luar negeri. Dia juga mendapatkan banyak insight dari pengalaman teman-teman barunya. Tak sedikit pula teman dari negara asing itu yang kemudian menawarkan berbagai bentuk kerja sama.

Suatu kali ia kesulitan mendapat jelantah, karena adanya mafia yang mengumpulkan jelantah untuk dipakai ulang. Ia lalu mempelajari model bank sampah.

“Berbekal berbagai analisis, kami membuat bank minyak jelantah RT/RW, yang efektif sampai hari ini. Kami memberi fasilitas, seperti check point dan jerigen, untuk kemudahan masyarakat. Dengan sistem ini, kami mengintegrasi satu kota” ucapnya.

Namun, untuk membuat bank minyak jelantah yang ideal, diperlukan biaya tidak sedikit dan Andi mengajak perusahaan besar untuk bekerja sama membuat bank minyak jelantah.

Bahkan, banyak perusahaan besar berskala nasional dan multinasional yang tertarik, karena mereka bisa menerapkan CSR, sekaligus mendapat ruang untuk branding. Dia juga membuat bank sampah di sekitar 20 sekolah, menyasar 500 siswa yang berarti membidik 500 rumah tangga. Setiap tiga hari mereka mengumpulkan segelas jelantah dalam wadah yang bisa dipakai ulang.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD