IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren musiman (seasonality) negatif selama Mei, menjadi penurunan terbesar di bulan tersebut sejak 2012 silam, di tengah tekanan jual (outflow) dana asing seiring sentimen rebalancing indeks global hingga pelemahan rupiah.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG merosot 11,92 persen selama sebulan terakhir, membukukan kinerja bulanan Mei terburuk sejak 2012, melampaui koreksi 8,32 persen yang terjadi pada Mei tahun tersebut.
Indeks acuan tersebut ditutup di 6.127,38, di kisaran level terendah sejak April 2025, pada Jumat (29/5/2026) lalu.
Asing membukukan jual bersih (net sell) Rp21,09 triliun di pasar reguler selama Mei, menyasar saham-saham bank besar hingga konglomerat kenamaan.
Menurut Phintraco Sekuritas, efektifnya rebalancing indeks MSCI pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026) mendorong penyesuaian portofolio investor global yang mengikuti indeks tersebut.
Kondisi ini memicu tekanan jual yang cukup besar, terutama pada saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.
Phintraco mencatat saham yang keluar dari MSCI Global Standard Index meliputi AMMN, BREN, TPIA, CUAN, dan DSSA. Sementara itu, AMRT turun kelas dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Small Cap Index.
Selain itu, ANTM termasuk dalam daftar saham yang dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index bersama sejumlah emiten lain seperti AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG.
Sementara itu, derasnya arus keluar dana asing pada saham-saham bank besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI diduga berkaitan dengan penyesuaian bobot (downweight) dalam indeks MSCI.
Tekanan terhadap IHSG belakangan ini tidak hanya berasal dari arus keluar dana asing seiring rebalancing indeks MSCI dan FTSE.
Sentimen pasar juga dibebani pelemahan rupiah yang pekan ini sempat menyentuh rekor terendah Rp17.970 per dolar AS, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal pemerintah serta ketidakpastian geopolitik Timur Tengah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.