IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026), setelah menguat tipis pada sesi sebelumnya. Persediaan yang tinggi masih membebani pergerakan harga komoditas tersebut.
Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives turun 0,84 persen menjadi 4.598 ringgit per ton, hingga jeda perdagangan tengah hari.
Analis komoditas pertanian dari perusahaan pialang StoneX yang berbasis di Singapura, Cheang Kang Wei, mengatakan, seperti dikutip Reuters, dampak kenaikan persediaan pada September sudah tercermin dalam harga pasar.
Harga CPO sebelumnya telah melemah, baik sebelum maupun setelah data dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board/MPOB) dirilis.
Persediaan minyak sawit Malaysia pada September melonjak menjadi 3,51 juta ton, seiring produksi yang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sekaligus mencatatkan level persediaan tertinggi yang pernah tercatat.
Meski demikian, Cheang menilai perhatian pasar kini beralih pada kemungkinan persediaan kembali meningkat pada Oktober.
Persediaan diperkirakan masih bertahan di level tinggi, tetapi laju kenaikannya berpotensi mulai melambat.
Pertumbuhan persediaan diperkirakan mulai melandai pada November apabila ekspor bertahan di atas 1,5 juta ton dan produksi stabil di kisaran 2 juta ton, kata Cheang.
Sebaliknya, jika permintaan tidak memenuhi ekspektasi sementara produksi bertahan di dekat rekor tertinggi, persediaan dapat bertahan di atas 3,5 juta ton lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi terus menekan harga CPO.
"Pasar juga semakin melihat melampaui kondisi persediaan saat ini dan mulai mencermati potensi risiko pasokan pada 2027, termasuk dampak lanjutan El Niño dan peningkatan kebutuhan biodiesel Indonesia seiring penerapan B50," kata Cheang.
Dari sisi permintaan, survei terhadap kapal pengangkut memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-10 Oktober meningkat 33,5-37,7 persen dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.
Di pasar energi, harga minyak mentah melemah dan berada di jalur penurunan pertama dalam hampir sepekan.
Pelaku pasar menimbang risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap Arab Saudi, sekaligus mempertimbangkan potensi tambahan pasokan diesel dari Rusia.
Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit relatif kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap harga CPO.
Pergerakan minyak nabati lainnya juga cenderung melemah.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,74 persen, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama terkoreksi 1,05 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade melemah 0,55 persen. (Aldo Fernando)