IDXChannel - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Kamis (1/10/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.
Investor kini menanti data tenaga kerja AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
Harga emas spot naik 0,49 persen menjadi USD4.177,06 per troy ons. Meski demikian, harga emas tercatat turun lebih dari 6 persen sepanjang September.
Data pada Rabu (30/9/2026) menunjukkan inflasi AS pada Agustus meningkat lebih rendah dari perkiraan. Tekanan harga pada bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.
Data tersebut mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga hanya sebesar 31 persen, turun dari 45 persen sebelum rilis data inflasi dan 69 persen sepekan sebelumnya.
“Ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih rendah telah mendukung pasar logam mulia,” kata Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger, seperti dikutip Reuters.
Namun, kenaikan harga emas masih tertahan oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Penguatan dolar AS juga membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Sementara itu, harga minyak ikut meningkat setelah China menghentikan ekspor produk minyak.
Kebijakan tersebut berpotensi memperketat pasar bahan bakar yang sebelumnya sudah menghadapi keterbatasan pasokan global.
“Segala hal yang meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tentu akan menekan sentimen di pasar emas. Kenaikan harga energi yang signifikan atau eskalasi konflik di Timur Tengah juga dapat memberikan dampak serupa,” ujar Meger.
Pelaku pasar kini menunggu laporan tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) AS untuk September yang akan dirilis Jumat (2/10/2026). Data tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed.
“Pelemahan selera risiko dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed telah membantu harga emas. Namun, tren jangka pendek masih bearish. Pengujian ulang level USD4.000 masih mungkin terjadi, terutama jika laporan nonfarm payrolls besok menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan,” kata analis pasar senior XM Trading, Achilleas Georgolopoulos, dalam catatannya.
HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk 2026 dan 2027 menjadi masing-masing USD4.490 per ons dan USD4.825 per ons.
Bank tersebut menilai harga emas masih berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek, meski mulai mendekati titik terendah.
Selain itu, HSBC memperkirakan bank sentral kembali melakukan pembelian emas sebagai respons terhadap penurunan harga, terutama jika harga emas bergerak mendekati atau berada di bawah level USD4.000 per ons. (Aldo Fernando)