sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kimia Farma (KAEF) Bidik Hilirisasi 8 Inovasi Kesehatan, dari Kratom hingga AI Tuberkulosis

Market news editor Rahmat Fiansyah
17/10/2026 15:05 WIB
PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) menjajaki hilirisasi delapan inovasi kesehatan bersama BRIN mulai dari pengembangan kratom hingga aplikasi AI tuberkulosis.
KAEF menjajaki hilirisasi delapan inovasi kesehatan bersama BRIN mulai dari pengembangan kratom hingga aplikasi AI tuberkulosis. (Foto: Ist(
KAEF menjajaki hilirisasi delapan inovasi kesehatan bersama BRIN mulai dari pengembangan kratom hingga aplikasi AI tuberkulosis. (Foto: Ist(

IDXChannel - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) menjajaki hilirisasi delapan inovasi kesehatan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mulai dari pengembangan kratom hingga aplikasi kecerdasan artifisial (AI) untuk tuberkulosis. Langkah ini dilakukan dengan menyelaraskan pengembangan riset dengan kebutuhan dan persyaratan industri.

Direktur Komersial PT Kimia Farma (Persero) Tbk, Hanadi Setiarto, menekankan pentingnya komunikasi antara periset dan industri sejak awal penelitian agar inovasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan industri.

“Dari awal sudah berkomunikasi dengan Bapak-Ibu. Jadi, jangan sampai kita sedang melakukan riset, ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan industri,” ujar Hanadi dalam Health Innovation Meeting di Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, dikutip Sabtu (17/10/2026).

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Mulyadi Sinung Harjono, mengatakan pembahasan teknis diperlukan untuk memetakan kesiapan setiap inovasi dan menentukan tindak lanjut kerja sama kedua pihak.

“BRIN dan Kimia Farma sebelumnya telah menjalin kerja sama, antara lain di bidang radiofarmaka. Pengalaman tersebut menjadi salah satu landasan untuk menjajaki pengembangan inovasi kesehatan lainnya. Dalam pertemuan ini akan dibahas lebih dalam teknisnya,” ujar Sinung.

Delapan inovasi yang dijajaki meliputi pengembangan kratom, pemanfaatan produk jelly stick, pengembangan microcrystalline cellulose (MCC), kit radiofarmaka, kit deteksi halal, material mineral trioxide aggregate (MTA), bone graft, serta aplikasi AI untuk tuberkulosis.

Meski demikian, kesiapan masing-masing inovasi masih berbeda. Pengembangan MCC masih dalam tahap penyusunan kerangka acuan kerja (KAK), sedangkan kratom memerlukan pengujian lanjutan. Pemanfaatan jelly stick telah memasuki pembahasan teknis, sementara Kimia Farma masih menghitung aspek ekonomi untuk pengembangan kit deteksi halal.

Pada material MTA, PT Phapros tengah menyiapkan KAK sebagai tindak lanjut. Sementara itu, pengembangan kit radiofarmaka masih membutuhkan pembahasan mengenai skema untuk mengaktifkan kembali kerja sama yang pernah terjalin. Adapun bone graft dan aplikasi AI untuk tuberkulosis masih memerlukan penjadwalan pertemuan lanjutan.

Tenaga Ahli Utama Bidang Kemitraan dan Komunikasi Strategis BRIN, Arimbi Nuurlatifa Yogasara, mengatakan Kepala BRIN mendorong agar kerja sama dengan Kimia Farma segera direalisasikan.

“Bapak Kepala BRIN berpesan agar kerja sama ini dapat terlaksana sesegera mungkin. Ini merupakan komitmen BRIN untuk mendorong agar penjajakan yang telah dilakukan bersama Kimia Farma dapat segera ditindaklanjuti secara konkret,” kata Arimbi.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement