IDXChannel – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai tekanan jual investor asing dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar di tengah ketidakpastian terkait usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Kondisi tersebut juga meningkatkan pentingnya selektivitas investor dalam memilih saham perbankan dengan fundamental pendanaan yang kuat.
Pada Senin (26/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,22 persen, mengoreksi sebagian kenaikan pekan sebelumnya. Investor asing kembali mencatatkan net sell harian yang meningkat hingga melampaui Rp2 triliun, sementara rupiah ditutup di atas Rp18.100 per dolar AS. Pelemahan kedua aset tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek investasi dan kerentanan eksternal Indonesia.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan bahwa meskipun pembelian domestik sejauh ini membantu menyerap outflow asing, peningkatan tekanan jual menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan dukungan tersebut.
“Dengan ketidakpastian MSCI yang belum mereda dan tekanan eksternal yang meningkat, kami tetap berhati-hati. Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya,” ujar Rully, pada Selasa (27/10/2026).
Di tengah kondisi pasar tersebut, fundamental sektor perbankan turut menjadi perhatian investor. Berdasarkan analisis riset Mirae Asset, pertumbuhan kredit perbankan melambat menjadi 12,7 persen secara tahunan pada September 2026, dari 13,3 persen pada Agustus 2026.
Perlambatan terutama berasal dari kredit investasi yang terkontraksi 0,2 persen secara bulanan, antara lain akibat tekanan pada segmen konstruksi.
Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) membaik menjadi 8,2 persen YoY, dengan total dana mencapai Rp9.896 triliun. Rasio current account and savings account (CASA) meningkat menjadi 64,9 persen.
Namun, kenaikan pendanaan tersebut diikuti peningkatan biaya dana, tercermin dari kenaikan suku bunga deposito di berbagai tenor. Kondisi ini berpotensi menekan margin bunga bersih (NIM) perbankan ke depan.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menilai penurunan rasio loan-to-deposit (LDR) perbankan menjadi 91,7 persen pada September 2026 dari 92,7 persen pada bulan sebelumnya belum mencerminkan perbaikan likuiditas yang struktural. Di sisi lain, suku bunga deposito tenor satu bulan naik menjadi 5,3 persen, sedangkan tenor tiga bulan mencapai 5,9 persen.
“Kami melihat penurunan LDR ini sebagai kelonggaran sementara, bukan perbaikan likuiditas yang struktural. Kenaikan biaya dana juga mengindikasikan potensi tekanan margin ke depan,” jelas Nurkholis.
Dalam kondisi tersebut, Mirae Asset tetap berpandangan positif terhadap PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), didukung likuiditas yang memadai, basis pendanaan berbiaya rendah yang kuat, serta kemampuan menjaga NIM di tengah kenaikan biaya dana.
Mirae Asset juga berpandangan positif terhadap PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang dinilai berpeluang menangkap pertumbuhan permintaan produk keuangan syariah, dengan bisnis emas sebagai salah satu penopang.
Sebaliknya, Mirae Asset tetap berhati-hati terhadap bank-bank besar Himbara, mengingat ketergantungan yang lebih tinggi pada pendanaan korporasi dan deposito serta potensi penurunan kualitas aset, khususnya dari segmen konstruksi. Di tengah volatilitas pasar, investor perlu mencermati arus dana asing, stabilitas rupiah, serta kemampuan bank mengelola likuiditas dan biaya pendanaan dalam menentukan strategi investasi.
(Shifa Nurhaliza Putri)