sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.903 Tertekan Geopolitik dan Inflasi AS

Market news editor Anggie Ariesta
14/10/2026 16:59 WIB
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penantian pelaku pasar terhadap data inflasi AS.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.903 Tertekan Geopolitik dan Inflasi AS (Foto: dok Freepik)
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.903 Tertekan Geopolitik dan Inflasi AS (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,02 persen ke level Rp17.903 per USD pada perdagangan Rabu (14/10/2026). 

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penantian pelaku pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS).

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen yang menekan rupiah berasal dari serangan kelompok Houthi terhadap gedung administrasi milik perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran. Serangan tersebut memicu kebakaran berskala kecil.

“Kelompok tersebut telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke arah Arab Saudi selama sepekan terakhir sebagai balasan atas dukungan kerajaan tersebut terhadap pasukan pemerintah Yaman,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Rabu (14/10/2026).

Selain itu, serangan terhadap Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh dilaporkan telah terjadi beberapa kali. Serangan pada Sabtu lalu menewaskan 13 orang, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Ketegangan juga meningkat setelah Iran menerapkan taktik baru untuk menyasar kapal-kapal di Selat Hormuz. Mengutip laporan Reuters, dua pejabat senior Iran mengatakan perubahan strategi tersebut bertujuan mempertahankan harga minyak tetap tinggi sekaligus memengaruhi pemilihan umum paruh waktu AS.

Keputusan untuk mengubah strategi itu disebut diambil pada tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan dikoordinasikan di seluruh pemerintahan.

Seorang pejabat militer AS yang berbicara dengan syarat anonim juga mengonfirmasi adanya perubahan taktik Iran. Setelah sebagian besar kemampuan radar Iran dihancurkan oleh serangan AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mulai menggunakan pengamat tanpa senjata di atas kapal-kapal kecil untuk mengidentifikasi sasaran potensial, termasuk kapal Angkatan Laut AS.

Dari Rusia, pemerintah menyatakan tidak melihat hubungan langsung antara perundingan damai dengan Ukraina dan kesepakatan ekspor solar ke AS. Pernyataan tersebut muncul setelah Reuters melaporkan bahwa utusan AS telah menyampaikan kepada pejabat Ukraina bahwa kesepakatan ekspor tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mendorong Rusia kembali ke meja perundingan guna mencapai kesepakatan damai.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk September 2026. Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Inflasi utama AS diperkirakan meningkat 0,6 persen secara bulanan (mom), lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus 2026. Sementara itu, inflasi tahunan diproyeksikan naik menjadi 3,7 persen dari 3,4 persen pada bulan sebelumnya.

Kenaikan inflasi dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Apabila tekanan harga tetap tinggi, ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan suku bunga berpotensi menjadi lebih terbatas. 

Perkembangan tersebut turut menjadi perhatian investor dalam menentukan posisi pada aset berdenominasi dolar AS maupun mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1 persen, dari 5,0 persen dalam laporan sebelumnya yang diterbitkan pada Juli 2026.

Meski demikian, IMF memproyeksikan inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,3 persen secara tahunan (yoy). Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2027 tidak berubah, yakni sebesar 5,1 persen.

Dalam laporan terbarunya, IMF menyoroti dua kekuatan transformatif yang memengaruhi perekonomian global, yakni geopolitik dan teknologi. Dampak ketegangan geopolitik terhadap setiap negara dinilai berbeda, bergantung pada kedekatan geografis dengan wilayah konflik serta sensitivitas perekonomian terhadap fluktuasi harga komoditas.

Di sisi lain, kemampuan negara dalam memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi faktor yang memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen sepanjang 2026. Sebelumnya, Suahasil Nazara menyebut pertumbuhan ekonomi di atas 5,5 persen pada kuartal III dan kuartal IV 2026 masih berpeluang tercapai.

Pada semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen. Pertumbuhan pada kuartal I-2026 tercatat sebesar 5,61 persen.

Sementara itu, IMF memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia melebar menjadi 1,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dari 0,1 persen pada 2025. 

Defisit tersebut diproyeksikan kembali menyempit menjadi 1 persen terhadap PDB pada 2027. Proyeksi CAD dari IMF itu lebih besar dibandingkan kisaran proyeksi Bank Indonesia (BI), yakni 0,5 persen hingga 1,3 persen terhadap PDB.

Berdasarkan sejumlah sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.900-Rp17.950 per USD pada perdagangan berikutnya.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement