IDXChannel - Saham-saham Grup Barito yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu menjadi salah satu sumber tekanan (laggard) terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (12/10/2026).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), per 11.48 WIB, IHSG merosot 1,94 persen ke level 5.975,28. Sebanyak 559 saham turun, 159 saham naik, dan 245 saham stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp6,03 triliun dengan volume perdagangan 31,43 miliar saham.
Di jajaran saham Grup Barito, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tercatat turun paling dalam, yakni 9,26 persen ke Rp2.450 per unit.
Selanjutnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) merosot 6,87 persen ke Rp1.560 dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 3,56 persen ke Rp1.355.
Tekanan juga menjalar ke saham lain yang terafiliasi dengan Prajogo. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) anjlok 9,74 persen, sedangkan PT Petrosea Tbk (PTRO) jatuh 8 persen.
Koreksi tersebut membuat saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar di ekosistem Prajogo ikut menjadi pemberat IHSG.
BREN memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp327,78 triliun, sementara TPIA dan BRPT masing-masing sekitar Rp134,96 triliun dan Rp127,03 triliun.
Penurunan serempak saham Grup Barito terjadi di tengah koreksi tajam IHSG, bersama saham konglomerasi lainnya serta bank besar dan meningkatnya tekanan jual di pasar.
Hingga saat ini, belum terdapat informasi korporasi baru pada Senin (12/10/2026) yang secara langsung menjelaskan pelemahan serentak BREN, TPIA, BRPT, CUAN, dan PTRO.
Sebaliknya, tekanan datang ketika pasar secara umum tengah menghadapi sejumlah sentimen global.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset 12 Oktober 2026 menyebut eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober menjadi perhatian pasar pekan ini.
Investor juga menanti rilis inflasi Amerika Serikat (AS) dan China serta neraca perdagangan China pada Rabu (14/10/2026).
Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga global, pergerakan dolar AS, rupiah, dan prospek permintaan komoditas. Pidato sejumlah pejabat Federal Reserve pada 14-16 Oktober juga menjadi perhatian.
MNC Sekuritas menilai pelemahan IHSG sejalan dengan tekanan terhadap rupiah yang berada di level Rp17.916 per USD.
Pasar regional Asia juga cenderung terbatas karena investor menunggu arah kebijakan moneter global dan mencermati pergerakan harga minyak mentah yang berada di kisaran USD90-USD102 per barel.
Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas sebelumnya memperingatkan IHSG masih rawan mengalami koreksi. Level 6.018 dan 5.973 menjadi support yang perlu dicermati.
Dengan IHSG kini berada di bawah 5.973, indeks berpotensi bergerak menuju area 5.850-5.911. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.