IDXChannel - Wall Street menguat pada hari Selasa, dengan indeks acuan S&P 500 mencatatkan rekor penutupan tertinggi untuk pertama kalinya sejak pertengahan Agustus.
Reli yang berlanjut dari pekan lalu, antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI), dan harga minyak yang cenderung stabil telah membantu pasar mengatasi gejolak di pasar obligasi pemerintah AS (Treasury).
Dilansir dari laman Investing Rabu (7/10/2026), indeks S&P naik 0,6 persen dan ditutup pada level 7.820,85 poin, menetap di atas angka 7.800 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi juga berakhir di rekor tertinggi, naik 0,5 persen menjadi 27.599,79 poin. Indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average menguat 0,5 persen dan berakhir di level 51.521,22 poin.
"Pasar ekuitas sebagian besar didorong oleh antusiasme terhadap pencapaian rekor tertinggi baru, yang terbantu oleh penurunan harga minyak dan pemulihan di pasar obligasi Treasury. Kecuali untuk saham-saham di sektor memori dan penyimpanan data, investor kembali memburu hampir semua aspek terkait tren investasi AI," ujar Michael O’Rourke, Kepala Strategi Pasar di Jones Trading, kepada Investing.com.
Wall Street Tangguh, Pasar Bullish Mendekati Peringatan Empat Tahun
Setelah kinerja yang lesu pada bulan September, pasar saham kembali menguat tajam di awal bulan ini. Sentimen pasar berhasil bertahan di tengah berbagai hambatan, mulai dari aksi jual besar-besaran obligasi pemerintah AS hingga ketidakpastian geopolitik yang terbantu oleh kebangkitan kembali minat investasi pada sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence) serta kinerja laba perusahaan yang solid.
Indeks S&P terus mencatatkan kenaikan pada setiap hari perdagangan di bulan Oktober sejauh ini, sebuah tren yang membawanya kembali ke level rekor tertinggi.
Reli terkini ini bermula setelah laporan ketenagakerjaan pada hari Jumat menunjukkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja AS pada bulan September lebih rendah dari perkiraan. Hal ini mendorong para investor untuk secara signifikan menurunkan ekspektasi mereka mengenai pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve dalam waktu dekat.
(kunthi fahmar sandy)