sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Dibuka Variatif Usai Rilis Kinerja Emiten Perbankan

Market news editor Febrina Ratna Iskana
13/10/2026 22:43 WIB
Wall Street dibuka dengan pergerakan yang minim perubahan hingga variatif pada Selasa (13/10/2026) usai sejumlah emiten bank merilis laporan keuangan.
Wall Street Dibuka Variatif Usai Rilis Kinerja Emiten Perbankan. (Foto: Inews Media Group)
Wall Street Dibuka Variatif Usai Rilis Kinerja Emiten Perbankan. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel – Wall Street dibuka dengan pergerakan yang minim perubahan hingga variatif pada Selasa (13/10/2026), saat investor mencermati pelemahan di sektor teknologi dan gelombang laporan keuangan perusahaan-perusahaan utama, terutama hasil kuartalan dari bank-bank terbesar Wall Street.

Pada pukul 09.32 ET, indeks acuan S&P 500 turun 0,1 persen ke level 7.800,90 poin, sementara indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,4 persen ke level 27.116,08 poin. Indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average naik 0,8 persen ke level 52.268,66 poin.

Indeks-indeks utama AS berakhir variatif pada Senin, di mana para pelaku pasar mempertimbangkan kekhawatiran seputar perdagangan terkait kecerdasan buatan (AI), lonjakan harga minyak, serta angka penjualan yang mengecewakan dari raksasa barang mewah LVMH.

Produsen chip AS menghadapi tekanan khusus di awal pekan perdagangan, dengan indeks yang melacak kinerja industri tersebut turun 2,7 persen. Penurunan ini sebagian dipicu oleh laporan mengenai kemajuan yang dicapai perusahaan China, ChangXin Memory Technologies; hal ini memicu kekhawatiran bahwa kesenjangan dalam perlombaan AI antara perusahaan AS dan pesaing mereka dari China mungkin kian menyempit.

"Topik pembicaraan utama pagi ini adalah sektor teknologi, seiring perdebatan investor mengenai alasan mengapa kelompok saham ini mencatatkan kinerja buruk dalam beberapa sesi terakhir," ungkap analis Vital Knowledge dalam sebuah catatan dikutip dari Investing, Selasa (13/10/2026).

Laporan Keuangan Bank Jadi Sorotan

Investor memantau dengan cermat serangkaian laporan keuangan dari bank-bank raksasa Wall Street, seiring dimulainya periode pelaporan kuartalan terbaru.

JPMorgan Chase mencatatkan laba kuartal ketiga yang lebih rendah dari perkiraan. Bank terbesar di AS ini terdampak oleh penurunan pendapatan di pasar pendapatan tetap (fixed-income) serta kerugian investasi sebesar USD658 juta dalam pembukuannya.

Sahamnya naik lebih dari 2 persen setelah bel pembukaan perdagangan. Saham Wells Fargo turun hampir 1 persen setelah grup tersebut melaporkan kenaikan laba kuartal ketiga yang didorong oleh pertumbuhan portofolio pinjaman dan pendapatan bunga yang lebih tinggi.

Sementara itu, pendapatan ekuitas dan biaya perbankan investasi Goldman Sachs pada kuartal ketiga meningkat, memicu kenaikan laba dan mendorong harga saham naik 2 persen. Pendapatan perdagangan pendapatan tetap (fixed-income) Citigroup melampaui ekspektasi, meskipun harga sahamnya sedikit turun.

Pada Rabu, Bank of America, Morgan Stanley, dan BlackRock dijadwalkan untuk merilis laporan keuangan mereka.

Serangkaian laporan laba bank ini kemungkinan akan dicermati untuk melihat tanda-tanda ketahanan dalam sektor penyaluran kredit, perbankan investasi, dan kredit konsumen, sementara perhatian khusus mungkin tertuju pada komentar apa pun mengenai prospek ekonomi secara luas.

Di luar sektor perbankan, perusahaan asuransi kesehatan AS, UnitedHealth Group (NYSE:UNH), mencatatkan pendapatan kuartal ketiga yang lebih baik dari perkiraan dan menaikkan proyeksi labanya.

Sementara itu, konglomerat layanan kesehatan Johnson & Johnson (NYSE:JNJ) mencatat kenaikan penjualan berkat permintaan yang kuat untuk obat penyakit imun Tremfya, meskipun masalah terkait perang di Timur Tengah berdampak negatif pada unit perangkat medisnya.

Saham UnitedHealth Group naik 3 persen setelah pembukaan perdagangan, sementara saham J&J turun hampir 4 persen.

Di sisi lain, harga minyak turun setelah Rusia menyatakan bahwa ekspor dieselnya mungkin melebihi volume yang diumumkan dalam kesepakatan pasokan dengan AS, sehingga meredam kekhawatiran mengenai arus pasokan dari kawasan Teluk.

Lonjakan harga minyak mentah pada Senin—yang sebagian dipicu oleh serangan baru terhadap infrastruktur Arab Saudi oleh pemberontak Houthi di Yaman—sempat memicu kekhawatiran akan meningkatnya tekanan inflasi.

Para pelaku pasar akan memiliki kesempatan untuk mencermati data indeks harga konsumen di September pada Rabu; data ini dapat memberikan gambaran mengenai kondisi inflasi serta prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

The Fed diperkirakan secara luas mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan bulan ini, setelah bank sentral tersebut menaikkan biaya pinjaman untuk pertama kalinya sejak 2023 pada September lalu. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement