sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement
Batik Tak Harus Bikin Penampilan Terlihat Tua, Blazer dan Motif Modern Jadi Pilihan Anak Muda
Batik Tak Harus Bikin Penampilan Terlihat Tua, Blazer dan Motif Modern Jadi Pilihan Anak Muda
Batik Tak Harus Bikin Penampilan Terlihat Tua, Blazer dan Motif Modern Jadi Pilihan Anak Muda
Batik Tak Harus Bikin Penampilan Terlihat Tua, Blazer dan Motif Modern Jadi Pilihan Anak Muda
Ecotainment editorMei Sada
01/11/2026 17:32 WIB

IDXChannel—Batik biasanya identik dengan busana formal atau pakaian yang dikenakan untuk acara tertentu. Padahal, dengan pemilihan model dan padu padan yang tepat, wastra Indonesia ini juga bisa menjadi bagian dari gaya sehari-hari, termasuk untuk anak muda.

Salah satu pilihan yang bisa dicoba adalah blazer batik. Model ini membuat penampilan terlihat lebih rapi tanpa harus terkesan terlalu formal. 

Blazer juga mudah dipadukan dengan berbagai jenis bawahan, mulai dari celana bahan hingga jeans. Tren mengenakan batik dengan sentuhan modern ini turut menjadi perhatian Atikah Huza, pemilik sekaligus desainer TIEKA HUZA. 

Ia melihat mulai ada pergeseran minat konsumen, terutama dari kalangan perempuan muda yang mencari busana batik dengan potongan lebih kekinian.

“Kalau anak muda sih lebih suka yang saya pakai ya, kayak blazer-blazer gini,” ujar Atikah saat ditemui dalam TIEKA HUZA Trunk Show 2026 di Batik Huza, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).

Menurut Atikah, selama ini konsumen TIEKA HUZA didominasi perempuan berusia 30 tahun ke atas. Namun, jenama yang dikembangkannya sejak 2014 itu kini mulai menyasar konsumen berusia di bawah 30 tahun melalui koleksi ready-to-wear dengan gaya yang lebih kasual dan modern.

“Kalau konsumen saya sebelumnya tuh di usia rata-rata 30 ke atas, tapi sekarang kita sudah mulai menurunkan ke 30 ke bawah, dengan kita memproduksi TIEKA HUZA ready-to-wear yang lebih style-nya ke anak muda,” jelasnya.

Atikah menjelaskan, karakter batik yang dihadirkan TIEKA HUZA tetap mengambil inspirasi dari motif klasik. Namun, motif tersebut dikembangkan kembali melalui eksplorasi warna, pola, dan bentuk busana agar lebih sesuai dengan selera perempuan masa kini.

“Kalau motif tertentu sebenarnya enggak juga, kita tetap pakai motif-motif klasik, tetapi kita kembangin lagi ke motif-motif yang lebih modern,” katanya.

Motif daun dan titik-titik yang menjadi bagian dari karakter batik tetap dipertahankan, tetapi dikombinasikan dengan pola lain, termasuk motif monogram. Pilihan warna yang lebih modern juga menjadi salah satu cara agar batik terasa lebih segar saat dikenakan.

Atikah menegaskan, tujuan pengembangan desain ini bukan menghilangkan kesan tradisional batik, melainkan membuatnya lebih mudah diterima oleh berbagai generasi.

“Walaupun klasik, tradisional, tetap bisa menampilkan batik-batik itu modern dan kekinian sehingga kita yang pakai tuh enggak kelihatan lebih tua,” tuturnya.

Dalam koleksi yang diperkenalkan pada trunk show kali ini, TIEKA HUZA menghadirkan tiga kelompok busana, yakni ready-to-wear, sutra, dan bordir dengan motif batik. Masing-masing terdiri dari delapan look.

Untuk koleksi ready-to-wear, pilihan modelnya mencakup blazer dan dress. Sementara itu, koleksi sutra lebih diarahkan pada tampilan formal. Ada pula busana bordir berbahan organza dan tile yang dipadukan dengan pola batik.

Dari sisi material, TIEKA HUZA menggunakan beragam bahan, mulai dari katun, sutra, hingga organza dan tile. Harga blazer batik dibanderol mulai Rp700 ribu, sedangkan koleksi berbahan sutra dimulai dari Rp2 juta.

Atikah mengatakan, model blazer dan busana sutra menjadi beberapa pilihan yang banyak diminati dalam koleksi tersebut. Tak hanya busana perempuan, TIEKA HUZA juga menyediakan koleksi untuk laki-laki, seperti kemeja dan hem. 

Konsumen yang ingin tampil serasi bersama keluarga pun dapat memesan busana secara kustom. Namun, Atikah menyarankan gaya couple batik tidak harus selalu dibuat seragam dari ujung kepala hingga kaki. 

Keserasian bisa dibangun melalui pemilihan warna atau tone motif yang senada. TIEKA HUZA sendiri merupakan lini premium dari Batik Huza, jenama batik asal Pekalongan yang telah berdiri sejak 1985. 

Seluruh produksinya dikerjakan sendiri di Pekalongan, dengan pemasaran melalui jalur online maupun offline. Melalui pendekatan desain yang lebih modern, Atikah ingin batik tidak hanya dikenakan untuk acara resmi, tetapi juga bisa menjadi pilihan busana yang relevan dalam aktivitas sehari-hari. 

Dengan begitu, anak muda punya lebih banyak cara untuk mengenakan batik tanpa harus meninggalkan gaya personal mereka.


(Nadya Kurnia)

Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :