sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement
IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Saham Konglo dan Bank Besar Lagi-Lagi Jadi Pemberat
IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Saham Konglo dan Bank Besar Lagi-Lagi Jadi Pemberat
IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Saham Konglo dan Bank Besar Lagi-Lagi Jadi Pemberat
IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Saham Konglo dan Bank Besar Lagi-Lagi Jadi Pemberat
Market news editorTIM RISET IDX CHANNEL
12/10/2026 11:22 WIB

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada lanjutan sesi I perdagangan Senin (12/10/2026), setelah sempat menyentuh level 6.128,72 pada awal sesi.

Tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama emiten konglomerasi dan perbankan, menyeret indeks kembali ke zona merah.

Pada pukul 11.12 WIB, IHSG turun 1,25 persen ke level 6.017,61, setelah sempat menyentuh level terendah 6.013,94.

 Sebanyak 487 saham melemah, 189 saham menguat, dan 287 saham stagnan.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp4,74 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 17,58 miliar saham.

Sejumlah saham konglomerasi, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN), menjadi pemberat utama indeks.

Tekanan juga datang dari saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti yang kerap terjadi belakangan ini.

Pelemahan pasar terjadi di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

MNC Sekuritas dalam riset Senin (12/10/2026) menyebut pelemahan IHSG sejalan dengan rupiah yang berada di level Rp17.916 per USD.

Pergerakan pasar saham regional Asia juga cenderung terbatas karena investor menanti sejumlah data ekonomi penting yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global.

Pada Rabu (14/10/2026), pasar mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan China, serta neraca perdagangan China.

Data tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, rupiah, ekspektasi suku bunga, dan prospek permintaan komoditas.

Selain itu, pidato sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) pada 14-16 Oktober turut menjadi perhatian pelaku pasar.

BRI Danareksa Sekuritas dalam riset 12 Oktober 2026 juga menyoroti eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) serta Bank Dunia pada 12-18 Oktober sebagai sentimen yang membayangi pasar global pekan ini.

Investor turut mencermati pergerakan harga minyak mentah dunia yang berada di kisaran USD90-USD102 per barel, menurut MNC Sekuritas.

Pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar di tengah kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik.

“Cenderung negatif untuk IHSG dalam jangka pendek di tengah tekanan jual dan ketidakpastian geopolitik. Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan berisiko memperkuat dolar AS dan menekan rupiah serta arus dana asing, sementara data China berpotensi memengaruhi prospek ekspor dan saham berbasis komoditas,” tulis BRI Danareksa.

Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas menilai IHSG masih rawan berbalik terkoreksi.

Level 6.018 dan 5.973 menjadi area support yang perlu dicermati. Jika indeks menembus kedua level tersebut, IHSG berpotensi menguji kisaran 5.850-5.911. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :