IDXChannel - Industri baja China saat ini menghadapi krisis. Gejolak ini lebih parah dibandingkan yang terjadi pada 2008 dan 2015.
"Ini musim dingin yang parah," kata Ketua China Baowu Steel Group Hu Wangming dalam rapat setengah tahunan perusahaan, dilansir dari Bloomberg pada Rabu (14/8/2024).
Baowu merupakan produsen baja terbesar di dunia. Perusahaan tersebut menyumbang 7 persen total produksi global.
"Krisis ini kemungkinan lebih lama, lebih dalam, dan lebih parah daripada yang diperkirakan sebelumnya," kata Hu.
Industri baja China sempat merosot parah saat Krisis Keuangan Global 2008-2009, dan sekali lagi pada 2015-2016. Dalam kedua kasus tersebut, krisis diatasi dengan stimulus besar-besaran.
Saat ini, Beijing enggan menggelontorkan stimulus besar-besaran untuk mengerek ekonomi negaranya. Presiden Xi Jinping lebih memilih untuk mereformasi sistem ekonomi.
Hu tidak menyebutkan secara terbuka penyebab kemerosotan saat ini, dia hanya menyatakan perusahaan harus menjaga kas dan meminimalkan risiko untuk dapat selamat melewati krisis.
“Departemen keuangan di semua tingkatan harus lebih memperhatikan keamanan pendanaan perusahaan,” kata perusahaan dalam pernyataannya.
“Dalam proses melewati musim dingin yang panjang dan keras, kesehatan kas lebih penting daripada keuntungan," katanya.
Harga baja yang digunakan di sektor kontruksi saat ini mencapai level terendah sejak 2017. Krisis industri baja China memengaruhi negara lainnya karena lonjakan ekspor untuk mengatasi kelemahan permintaan domestik. (Wahyu Dwi Anggoro)