sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement
Wall Street Berakhir Lesu, Tertekan Saham Alphabet-Amazon dan Kenaikan Harga Minyak
Wall Street Berakhir Lesu, Tertekan Saham Alphabet-Amazon dan Kenaikan Harga Minyak
Wall Street Berakhir Lesu, Tertekan Saham Alphabet-Amazon dan Kenaikan Harga Minyak
Wall Street Berakhir Lesu, Tertekan Saham Alphabet-Amazon dan Kenaikan Harga Minyak
Market news editorDhera Arizona Pratiwi
24/09/2026 06:16 WIB

IDXChannel - Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (23/9/2026), waktu setempat, tertekan oleh saham Alphabet dan Amazon. Hal ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dan pernyataan Presiden Iran bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah pada tekanan Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Reuters, Kamis (24/9/2026), indeks S&P 500 turun 0,75 persen dan mengakhiri sesi perdagangan di level 7.706,05 poin.

Indeks Nasdaq melemah 1,13 persen menjadi 26.936,04 poin, sementara Dow Jones Industrial Average merosot 0,68 persen menjadi 51.511,59 poin.

Harga minyak naik hampir 4 persen dan indeks sektor energi S&P 500, melonjak setelah pidato Presiden Iran Masoud Pezeshkian di PBB, tepat sehari setelah Presiden AS Donald Trump memeringatkan bisa memusnahkan Iran.

Imbal hasil obligasi Treasury tenor 2 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2024, sementara imbal hasil Treasury tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007.

"Pasar saham menginginkan penyelesaian konflik (Timur Tengah), dan jika kita tidak mendapatkannya, suku bunga akan tetap tinggi lebih lama, dan hal itu akan terus membebani pasar ekuitas," kata Kepala Investasi di Founders 100 ETF Dallas, Lauren Cassidy.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyambut Presiden China Xi Jinping di Washington pada Rabu untuk kunjungan selama tiga hari. Agenda pertemuan tersebut mencakup perpanjangan gencatan senjata perdagangan yang dicapai tahun lalu antara kedua negara adidaya, regulasi kecerdasan buatan (AI), dan penjualan senjata AS ke Taiwan.

Saham Meta Platforms naik 1 persen, menjadikan kenaikan minggu ini sebesar 12 persen menyusul sambutan positif terhadap asisten AI "Muse" miliknya, di mana analis menilai hal ini dapat menguntungkan saham infrastruktur teknologi, sekaligus menjadi tantangan bagi bank, platform belanja daring, dan bisnis konsumen lainnya.

Saham induk perusahaan Google, Alphabet, turun 3,8 persen. Amazon yang telah memblokir Muse dari platform belanjanya, melemah 2,2 persen.

Indeks chip PHLX merosot 1,2 persen, dengan saham Nvidia melorot 1,5 persen.

Saham Expedia dan Airbnb sama-sama turun lebih dari 7 persen.

Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi dalam dua sesi sebelumnya karena Wall Street tetap optimistis terhadap perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AI. Indeks S&P 500 berada kurang dari 2 persen di bawah rekor penutupan tertingginya yang dicapai pada 13 Agustus.

Volume perdagangan di bursa AS tergolong cukup tinggi, dengan 17,0 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan dengan rata-rata 16,5 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya.

Menurut data LSEG, S&P 500 diperdagangkan pada level sedikit di bawah 19 kali lipat dari perkiraan laba, yang merupakan valuasi terendah sejak tahun 2023. Perusahaan-perusahaan besar yang terkait dengan AI menjadi faktor utama di balik peningkatan perkiraan laba belakangan ini.

S&P 500 mencatat 14 level tertinggi baru dan 33 level terendah baru; Nasdaq mencatat 41 level tertinggi baru dan 186 level terendah baru.

Pasar juga mencermati komentar dari Gubernur Federal Reserve Michael Barr, yang menyatakan bank sentral kemungkinan perlu kembali menaikkan suku bunga karena inflasi masih berada di atas target 2 persen yang ditetapkan The Fed.

Para pelaku pasar kini memperhitungkan adanya peluang sebesar 71 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan bulan depan, berdasarkan data dari FedWatch Tool milik CME Group.

(Dhera Arizona)

Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :