sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tak Harus Bangun Komponen Mandiri, Raksasa Teknologi Global Ungkap Potensi AI di RI

Technology editor Nia Deviyana
28/10/2026 22:00 WIB
Pengembangan AI perlu diarahkan pada kebutuhan nyata, termasuk pertanian, kesehatan, pendidikan, dan penanganan perubahan iklim.
Tak Harus Bangun Komponen Mandiri, Raksasa Teknologi Global Ungkap Potensi AI di RI. Foto: iNews Media Group.
Tak Harus Bangun Komponen Mandiri, Raksasa Teknologi Global Ungkap Potensi AI di RI. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dinilai menghadirkan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam ekosistem teknologi global. Director of AI and Research Partnerships Google APAC, Harsh Dhand, mengatakan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan model AI global sekaligus mengembangkan kapabilitas domestik sesuai kebutuhan nasional, tanpa harus membangun seluruh komponen teknologi secara mandiri.

“Kuncinya adalah managed interdependence. Indonesia dapat bekerja sama dengan sejumlah model global sekaligus mengembangkan model terbuka sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Dengan pendekatan ini, Indonesia dapat memanfaatkan kemajuan teknologi yang sudah tersedia sambil membangun kemampuan untuk memenuhi kebutuhan domestik,” kata Harsh dalam rangkaian Danantara Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta, dikutip Rabu (28/10/2026).

Dia menambahkan, pengembangan AI perlu diarahkan pada kebutuhan nyata, termasuk pertanian, kesehatan, pendidikan, dan penanganan perubahan iklim. Selain itu, kemampuan AI memahami beragam bahasa dan dialek lokal serta penurunan biaya penggunaan teknologi menjadi faktor krusial agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.

Sementara itu, Director Sweden AI Factory, Rossen Apostolov, pada sesi yang sama menekankan bahwa pembangunan ekosistem AI tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur komputasi, tetapi juga membutuhkan pengembangan keahlian, pendampingan pengguna, dan kolaborasi riset. Indonesia dapat memulai dengan menetapkan sektor prioritas serta mengembangkan solusi AI secara bertahap.

“Sangat penting untuk memastikan pengguna mampu memanfaatkan teknologi AI, mengevaluasi berbagai pilihan yang tersedia, dan membuat keputusan berdasarkan pemahaman yang baik. Indonesia dan Danantara perlu membangun jaringan ahli domestik serta memperkuat kapasitas pengguna dengan tujuan mencapai tahap kemandirian,” ujar Rossen.

Kesiapan infrastruktur digital menjadi aspek penting lainnya dalam pengembangan ekosistem AI nasional. Dalam sesi Strategic Digital Infrastructure for AI, Cloud Sovereignty, and National Resilience, para pelaku industri membahas kesiapan infrastruktur digital, kedaulatan data, pasokan energi, serta talenta lokal untuk mendukung pemanfaatan AI di Indonesia.

CEO NeutraDC Singapore, Sendang Praptomo, menyoroti pentingnya perencanaan pusat data yang mempertimbangkan kebutuhan komputasi AI sekaligus dampak lingkungan dan sosial.

“Kebutuhan komputasi AI memerlukan daya yang sangat besar. Kita perlu memetakan kebutuhan energi dari awal, siapa yang akan memasok energi, dan bagaimana pasokannya bisa menjangkau pusat data. Selain itu, penggunaan air, pengelolaan panas, dan dampak terhadap masyarakat juga perlu diperhitungkan,” ucap Sendang.

Sementara itu, Head of Technology AWS, Donald Tirtaatmadja, menjelaskan bahwa penempatan infrastruktur dan pemrosesan AI di Indonesia dapat mempercepat layanan dan membantu memenuhi persyaratan pengelolaan data di dalam negeri. Namun, hal tersebut membutuhkan pembaruan teknologi berkelanjutan, pasokan energi yang andal, serta dukungan ekosistem lokal.

Kebutuhan energi dan pengelolaan sumber daya tersebut juga menjadi pertimbangan dalam investasi infrastruktur digital oleh Danantara. 

Sebelumnya, Managing Director Investment Danantara Investment Management (DIM), Stefanus Ade Hadiwidjaja, menyampaikan bahwa infrastruktur digital dan AI merupakan salah satu prioritas investasi Danantara, di mana pengembangannya dilakukan dengan memperhatikan dampak lingkungan dan sosial.

“Dari sisi energi, untuk data center berskala besar, kami menerapkan prinsip BYOE (Bring Your Own Energy). Kami tidak ingin mengganggu pasokan energi yang saat ini dibutuhkan untuk industrialisasi dan masyarakat. Dari sisi air, kami memastikan setiap investasi data center menggunakan teknologi closed loop, sehingga pengambilan air sangat minim. Sebisa mungkin, kami juga mendorong adanya water treatment system dan desalinasi air,” ujar Stefanus.

Upaya pengembangan infrastruktur AI nasional juga mulai diwujudkan melalui kerja sama strategis antarpelaku industri. Dalam DTIIF 2026, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui NeutraDC, bersama PT PLN (Persero) dan mitra pengelola kawasan industri terpadu, dengan dukungan Danantara Indonesia, menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk mendukung pengembangan National AI Data Center Hub. Kerja sama ini diarahkan untuk menyelaraskan pengembangan pusat data AI dengan kesiapan kawasan industri, pasokan listrik, konektivitas, dan utilitas pendukung.

Momentum investasi di sektor ini juga berpotensi berlanjut, dengan Danantara tengah menyiapkan sejumlah proyek investasi pusat data yang akan diumumkan dalam New Asia Forum (NAF) 2026 pada 3–4 Desember di Bali. Menurut Stefanus, investasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menarik modal, tetapi juga memperoleh teknologi, pengetahuan, kapabilitas, dan sumber daya manusia.

“Dengan dukungan teknologi global, penguatan kemampuan domestik, serta kolaborasi antara pelaku industri dan investor, Indonesia memiliki peluang untuk membangun ekosistem AI yang mampu mendukung kebutuhan industri nasional. Pengembangan infrastruktur yang terencana, didukung pasokan energi dan pengelolaan sumber daya yang memadai, akan menjadi faktor penting untuk mengubah potensi AI menjadi manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement