Bank Jago Andalkan Underwriting Digital dan Fitur Edukatif di Tengah Kenaikan BI Rate
PT Bank Jago Tbk menyatakan kinerja dan pertumbuhan kredit perseroan hingga kuartal II-2026 masih berjalan solid dan sesuai dengan Rencana Bisnis Bank.
IDXChannel – PT Bank Jago Tbk menyatakan kinerja dan pertumbuhan kredit perseroan hingga kuartal II-2026 masih berjalan solid dan sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (RBB), meski di tengah dinamika makroekonomi dan tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).
Sebagai bank digital yang berfokus pada pengembangan ekosistem, Bank Jago memilih untuk tidak bersaing secara agresif melalui perang suku bunga. Perseroan lebih mengandalkan teknologi underwriting otomatis serta pendekatan produk yang berorientasi pada kebutuhan nasabah.
Head of Sustainability & Digital Lending Bank Jago, Andy Djiwandono, mengatakan kenaikan BI Rate memang memengaruhi biaya dana (cost of fund) industri perbankan. Namun, menurutnya, BI Rate bukan satu-satunya faktor yang menentukan suku bunga pinjaman di Bank Jago.
Ia menjelaskan, suku bunga pinjaman ditentukan secara otomatis dan dinamis berdasarkan profil risiko masing-masing nasabah. Perhitungan tersebut mempertimbangkan biaya dana, margin keuntungan bank, serta premi risiko yang didasarkan pada karakteristik dan riwayat pembayaran debitur.
"Underwriting kami semuanya sudah otomatis secara digital. Jadi penyesuaian harga atau tarif pinjaman bisa terjadi kapan saja tanpa harus selalu menunggu perubahan suku bunga BI. Tiap orang akan mendapatkan penawaran harga, tenor, dan limit yang berbeda-beda tergantung hasil kalkulasi sistem digital kami," ujar Andy di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Terkait persaingan dengan perusahaan pinjaman online (pinjol), Bank Jago menyatakan tidak menerapkan strategi perpindahan (switching) nasabah secara agresif.
"Kami tidak mau sekadar bersaing dari sisi harga. Strategi kami adalah memastikan produk dikembangkan dengan prinsip responsible lending dan berkolaborasi dengan berbagai mitra ekosistem, bukan saling mematikan," kata Andy.
Dari sisi penghimpunan dana (funding), Bank Jago mencatat pertumbuhan signifikan pada segmen generasi Z (Gen Z) dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data internal, kelompok usia tersebut menunjukkan minat yang tinggi terhadap pengelolaan keuangan dan investasi digital.
"Sejak masa pandemi Covid-19 hingga sekarang, pertumbuhan terbesar di segmen Gen Z justru berasal dari investasi digital. Ini menunjukkan semakin banyak generasi muda yang memahami berbagai pilihan instrumen investasi," ujarnya.
Untuk menjangkau segmen tersebut, Bank Jago tidak menjadikan suku bunga tabungan sebagai daya tarik utama. Perseroan memilih mengembangkan berbagai fitur yang dinilai relevan dengan gaya hidup pengguna.
Salah satunya adalah fitur kantong (pocket) yang memungkinkan nasabah mengelompokkan dana sesuai tujuan keuangan dengan nama, warna, maupun emotikon yang dapat disesuaikan. Selain itu, Bank Jago juga menyediakan integrasi dengan platform investasi digital seperti Bibit dan Stockbit sehingga nasabah dapat menghubungkan kantong tabungan secara langsung untuk berinvestasi di reksa dana maupun saham.
Hingga saat ini, jumlah nasabah Bank Jago telah melampaui 19 juta. Perseroan menyatakan fokus ke depan tidak lagi semata-mata mengejar pertumbuhan jumlah pengguna, tetapi juga menjaga pertumbuhan aset dan profitabilitas secara berkelanjutan melalui peningkatan pengalaman pengguna (user experience/UX) serta mendorong kesehatan keuangan (financial health) nasabah.
(Eugenia Siregar)