Beban Provisi Turun, BNC (BBYB) Kantongi Profit Rp566 Miliar di 2025
PT Bank Neo Commerce Tbk atau BNC (BBYB) dengan merek neobank mencetak kinerja positif pada tahun lalu dengan mencetak laba bersih Rp566 miliar.
IDXChannel - PT Bank Neo Commerce Tbk atau BNC (BBYB) dengan merek neobank mencetak kinerja positif pada tahun lalu, sejalan dengan upaya bank menuju jalur profitabilitas.
BNC membukukan laba bersih sebesar Rp566 miliar, naik tajam dibandingkan 2024 yang sebesar Rp20 miliar. Untuk pertama kalinya, bank mencatat laba positif selama dua tahun beruntun setelah pada periode 2021-2023 mencatat rugi bersih ratusan miliar rupiah.
Namun, peningkatan laba yang signifikan pada 2025 lebih ditopang oleh menurunnya beban provisi hingga 42 persen menjadi Rp1,3 triliun dari 2024 yang mencapai Rp2,3 triliun. Selain itu, beban operasional juga turun 11 persen menjadi Rp866 miliar, mencerminkan efisiensi yang dilakukan BNC.
"Kami berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang baik dengan tetap menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan model bisnis digital yang kami miliki," kata Direktur Utama BNC, Eri Budiono, dalam keterangan resmi, Selasa (31/3/2026).
Pendapatan BNC turun 16 persen menjadi Rp2,8 triliun, tertekan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) 14 persen menjadi Rp2,3 triliun dan pendapatan nonbunga 28 persen menjadi Rp412 miliar. Sejalan dengan kondisi tersebut, margin bunga (Net Interest Margin/NIM) juga turun meski masih tebal dari 17,3 persen menjadi 14,4 persen.
Hingga Desember 2025, BNC membukukan total aset Rp18,97 triliun, tumbuh 9 persen secara tahunan. Adapun dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp14,03 triliun, meningkat 7,4 persen dari Rp13,1 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan dana tabungan yang mencapai Rp3,5 triliun serta deposito yang tetap terjaga di level Rp9,86 triliun.
Dari sisi intermediasi, BNC menyalurkan kredit sebesar Rp7,2 triliun, turun 4,1 persen dari 2024. Segmen kredit konsumer masih mendominasi sebesar Rp5,6 triliun dengan rincian konsumer NON AL Rp3,2 triliun dan AL Rp2,4 triliun. Adapun kredit korporasi, multifinance, & SME anjlok 21 persen menjadi Rp1,5 triliun.
Sementara itu, Non-Performing Loan (NPL) gross naik dari 3,3 persen pada akhir 2024 menjadi 3,6 persen dengan NPL Coverage Ratio berada di level 200,3 persen. Senada, Loan at Risk (LAR) meningkat dari 12,8 persen pada akhir 2024 menjadi 13,1 persen di akhir 2025.
Walaupun begitu, likuiditas BNC tetap solid, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di level 51,21 persen dan Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 614,93 persen. BNC juga mempertahankan posisi permodalan yang kuat dengan modal inti sebesar Rp4,03 triliun, meningkat dari Rp3,32 triliun pada tahun sebelumnya.
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat 49,1 persen, meningkat signifikan dibandingkan 35,3 persen pada tahun sebelumnya, didukung oleh peningkatan laba bersih.
Memasuki 2026, perseroan akan menitikberatkan strategi pada penyaluran kredit yang berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Untuk hal ini, BNC akan terus meningkatkan kapabilitas produk dan menambah mitra guna memperluas potensi bisnis serta memperkuat ekosistem keuangan yang inklusif.
"Salah satu inisiatif strategis yang tengah kami siapkan adalah peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dengan mitra yang direncanakan hadir pada pertengahan 2026, sebagai bagian dari upaya kami dalam memperluas akses pembiayaan yang aman, terukur, dan relevan dengan kebutuhan nasabah," kata Eri.
(Rahmat Fiansyah)