BI Rate Diproyeksi Naik Lagi, Danamon (BDMN) Siapkan Strategi Bisnis
Consumer Funding & Wealth Business Head Danamon, Ivan Jaya, mengatakan perkembangan ekonomi global masih dipengaruhi kondisi geopolitik.
IDXChannel – PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) menilai Bank Indonesia (BI) masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga acuan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal. Meski demikian, perseroan memastikan akan menyesuaikan strategi bisnis mengikuti arah kebijakan regulator.
Consumer Funding & Wealth Business Head Danamon, Ivan Jaya, mengatakan perkembangan ekonomi global masih dipengaruhi kondisi geopolitik. Namun, meredanya tensi konflik di Timur Tengah berpotensi menjadi katalis positif bagi perekonomian.
"Kami masih melihat kondisi ekonomi terutama dipengaruhi faktor eksternal. Namun, apabila perkembangan geopolitik membaik, tentu itu dapat menjadi katalis positif bagi perekonomian," ujar Ivan Jaya kepada media pada Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan bagi Bank Indonesia untuk kembali menyesuaikan suku bunga acuan.
"Tidak tertutup kemungkinan BI mempunyai langkah untuk menaikkan suku bunga lagi, mungkin satu kali atau dua kali lagi. Apa pun kebijakan yang diambil pemerintah, kami akan mengikuti dan melakukan penyesuaian," kata Ivan.
Ivan menjelaskan, penyesuaian dilakukan baik pada suku bunga kredit maupun dana pihak ketiga. Namun, Danamon tidak serta-merta menaikkan seluruh suku bunga, melainkan mempertimbangkan kebutuhan nasabah serta kondisi likuiditas di pasar.
Selain melakukan penyesuaian pricing, Danamon tetap mengedepankan strategi peningkatan transaksi nasabah untuk menjaga pertumbuhan dana murah. Perseroan juga terus memperkuat layanan transaksi, termasuk transaksi valuta asing, guna meningkatkan penghimpunan dana sekaligus menjaga biaya dana tetap kompetitif.
Hingga Maret 2026, kredit Danamon tumbuh sekitar 9 persen secara tahunan menjadi Rp216 triliun, sedangkan dana pihak ketiga meningkat sekitar 16 persen menjadi Rp176 triliun.
(Shifa Nurhaliza Putri)