BANKING

BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, BTN Fokus Himpun Dana Murah

Anggie Ariesta 20/05/2026 18:04 WIB

Guna mengantisipasi pembengkakan biaya dana akibat tren suku bunga tinggi (higher-for-longer) ini, BTN langsung tancap gas mengamankan struktur neraca keuangan.

BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, BTN Fokus Himpun Dana Murah. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyatakan kesiapannya dalam menghadapi bauran kebijakan moneter terbaru Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan ke 5,25 persen. Bank pelat merah yang membawa mandat pembiayaan perumahan ini memastikan telah memitigasi berbagai skenario pengetatan likuiditas guna menjaga stabilitas bisnis.

Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, menjelaskan perbankan secara umum telah mengantisipasi fluktuasi suku bunga melalui pengelolaan tata kelola risiko yang matang serta simulasi ketahanan keuangan makro. Langkah ini krusial untuk mengukur dampak rembesan kenaikan bunga acuan terhadap lonjakan beban bunga operasional.

"Perbankan pada dasarnya telah siap menghadapi berbagai skenario kebijakan moneter, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga acuan. Masing-masing bank telah memiliki manajemen risiko yang memadai serta melakukan stress test secara berkala dengan mempertimbangkan potensi kenaikan BI Rate yang dapat berdampak pada peningkatan biaya dana (cost of fund)," ujar Ramon saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026).

Menurut Ramon, guna mengantisipasi pembengkakan biaya dana akibat tren suku bunga tinggi (higher-for-longer) ini, BTN langsung tancap gas mengamankan struktur neraca keuangan. Manajemen akan memprioritaskan penghimpunan dana murah untuk menjaga margin bunga bersih tetap sehat.

"Untuk mengurangi sensitivitas terhadap tekanan nilai tukar dan biaya pendanaan, BTN juga terus menjaga struktur pendanaan agar tetap efisien melalui penguatan dana murah (CASA) sebagai fokus utama strategi funding perseroan," kata Ramon.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Mei 2026 secara mengejutkan memutuskan untuk mengerek BI-Rate sebesar 50 basis points (bps) menjadi 5,25 persen. Kebijakan serupa juga diterapkan pada suku bunga Deposit Facility yang naik menjadi 4,25 persen dan Lending Facility ke level 6,00 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan pengetatan moneter ini bersifat antisipatif (pre-emptive) untuk membentengi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak pasar keuangan global akibat eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah.

BI menyatakan fokus moneter saat ini bergeser sepenuhnya pada aspek stabilitas (pro-stability) demi menjaga jangkar inflasi nasional pada rentang 2,5±1 persen untuk periode 2026 dan 2027, sekaligus memastikan ketahanan eksternal makroekonomi domestik tetap solid.

Komitmen BTN untuk menggenjot rasio Current Account Saving Account (CASA) sangat beralasan apabila menilik pencapaian rapor keuangan korporasi. Per kuartal I-2026, CASA BTN tercatat naik 7,9 persen yoy menjadi Rp212,11 triliun atau menempati porsi 50,2 persen dari total DPK.

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, bank yang fokus pada KPR ini berhasil menjaga pertumbuhan kredit dan pembiayaan yang stabil, ditopang segmen perumahan subsidi maupun nonsubsidi.

BTN mencatatkan penyaluran kredit senilai total Rp400,63 triliun atau naik 10,3 persen yoy dari Rp363,11 triliun di kuartal I-2026. 

Dari total penyaluran kredit tersebut, di segmen KPR Subsidi, BTN menyalurkan kredit senilai Rp193,55 triliun per kuartal I-2026 atau naik 7,7 persen yoy dari Rp179,70 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian, untuk segmen KPR Non-Subsidi, posisi kredit telah mencapai Rp112,56 triliun per kuartal I-2026 atau naik 5,4 persen yoy dari Rp106,81 triliun

Meskipun likuiditas di pasar mengetat, posisi rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) BTN pada kuartal pertama terpantau berada di level yang sangat aman dan jauh di atas ambang batas ketentuan regulator.

(NIA DEVIYANA)

SHARE