IDXChannel – Tekanan jual dan volatilitas yang tinggi diproyeksi membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan depan. Sejumlah sentimen dari pasar global maupun domestik diperkirakan memicu kelanjutan aksi ambil untung oleh para pelaku pasar.
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa secara teknikal posisi indeks saham gabungan saat ini masih rentan mengalami penurunan lebih lanjut.
“Untuk sepekan ke depan kami perkirakan IHSG masih rawan terkoreksi dengan support 6.510 dan resisten 6.917,” kata Herditya yang kerap disapa Didit kepada IDX Channel, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Didit, setidaknya ada empat faktor krusial yang akan memengaruhi psikologis pasar dan arah pergerakan dana investasi dalam beberapa hari ke depan.
Pertama, ketegangan geopolitik yang belum mereda, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz, masih menjadi kekhawatiran utama penentu stabilitas ekonomi global.
Kemudian, yang kedua, adanya penyesuaian bobot saham dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memicu peningkatan tekanan jual serta arus modal keluar (outflow) dari pasar saham domestik.
“Tekanan jual dan outflow dari IHSG mengenai rebalancing MSCI,” kata Didit.
Ketiga, menurut Didit, pelaku pasar menanti rilis kebijakan moneter Bank Indonesia, di mana tingkat suku bunga acuan diproyeksikan bertahan di level 4,75 persen.
Terakhir, investor akan terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang belakangan ini mengalami tekanan di pasar internasional.
“Investor masih akan mencermati akan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” tutur Didit.