BANKING

Era Bakar Uang Berakhir, 43 Persen Fintech RI Sudah Bukukan Laba

Rohman Wibowo 02/09/2026 10:48 WIB

Berdasarkan data AFTECH, 43 persen perusahaan fintech di Tanah Air kini telah berhasil membukukan laba bersih seiring matangnya ekosistem keuangan digital.

Era Bakar Uang Berakhir, 43 Persen Fintech RI Sudah Bukukan Laba. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Industri teknologi finansial atau financial technology (fintech) nasional mulai bertransisi dari fase bakar uang menuju model bisnis yang berkelanjutan. Berdasarkan data Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), sebanyak 43 persen perusahaan fintech di Tanah Air kini telah berhasil membukukan laba bersih seiring matangnya ekosistem keuangan digital.

Pergeseran pola bisnis di sektor keuangan digital menunjukkan kedewasaan industri yang kini lebih menitikberatkan pada profitabilitas ketimbang sekadar mengejar pertumbuhan volume secara instan. 

Transformasi ini sekaligus membuka peluang besar bagi para pelaku usaha untuk memperkuat struktur permodalan melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

"Sebanyak 43 persen perusahaan fintech di Indonesia sudah mencatatkan laba, sehingga untuk industri yang selama bertahun-tahun diidentikkan dengan membakar uang, ini adalah perubahan yang layak dicatat. Capaian ini mungkin juga perlu agar perusahaan anggota kami dapat melantai di Bursa Efek Indonesia," ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Firlie Ganinduto dalam keterangannya di gedung BEI, Jakarta, dikutip Rabu (2/9/2026).

Berdasarkan survei terhadap 141 perusahaan anggota AFTECH, lompatan kinerja bisnis tersebut berjalan seiring dengan tingginya adopsi teknologi mutakhir, di mana 84 persen pelaku industri telah mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam operasional harian, mulai dari analisis mitigasi risiko, deteksi penipuan, hingga otomasi layanan nasabah. 

Di sisi lain, 86 persen anggota mengapresiasi kerangka regulasi di Indonesia yang dinilai telah adaptif dan ramah terhadap iklim inovasi, termasuk dalam membuka akses investasi dua arah antara pemodal domestik dan pasar global.

Pemanfaatan inovasi teknologi kini diarahkan sebagai pilar utama dalam meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas pemerataan layanan keuangan bagi masyarakat luas. 

Asosiasi memandang arah masa depan industri fintech tidak lagi sebatas memproduksi instrumen digital baru, melainkan menghadirkan dampak nyata bagi inklusi keuangan nasional.

"Dulu pertanyaannya adalah seberapa cepat kita bisa bertumbuh, sekarang kita mulai bertanya seperti apa bentuk pertumbuhan yang ingin dibangun melalui tata kelola dan kualitas layanan yang berkelanjutan. Fokus berikutnya bukan hanya menciptakan produk baru, tetapi bagaimana teknologi dapat memperluas akses dan menghubungkan masyarakat dengan pilihan keuangan yang lebih beragam," kata Firlie.

Meski menunjukkan tren profitabilitas yang solid, industri fintech masih dihadapkan pada tantangan pemerataan dan kesiapan sumber daya manusia. Data AFTECH mencatat sekitar 66 persen perusahaan masih mengalami defisit talenta terampil di bidang kecerdasan buatan dan big data, sementara 74 persen basis pengguna transaksi digital saat ini masih terpusat di kawasan Jabodetabek.

Pemerataan penetrasi pengguna ke luar Pulau Jawa dan pemenuhan tenaga ahli digital menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus diakselerasi melalui kolaborasi lintas sektor. Terbukanya akses ke pasar modal global dan sinergi bersama industri perbankan konvensional diyakini dapat memperkokoh posisi fintech sebagai penggerak utama transformasi ekonomi digital.

"Empat temuan ini menunjukkan bahwa industri fintech Indonesia semakin matang baik dari sisi bisnis maupun teknologi, meski tantangan berikutnya adalah memperluas jangkauan manfaat di luar Jabodetabek dan memenuhi talenta yang dibutuhkan. Fintech hari ini bukan sekadar alternatif bagi lembaga keuangan yang ada, tetapi sudah menjadi mitra strategis dalam membangun sistem keuangan masa depan," kata Firlie.

(Dhera Arizona)

SHARE