BANKING

Jaga Kepercayaan Investor, Bos BTN Bakal Temui Moody’s Usai RI Dapat Outlook Negatif

Anggie Ariesta 10/02/2026 07:28 WIB

Dirut BTN (BBTN) berencana segera menggelar pertemuan mendalam dengan Moody's usai lembaga tersebut menurunkan peringkat Indonesia menjadi negatif.

Jaga Kepercayaan Investor, Bos BTN Bakal Temui Moody’s Usai RI Dapat Outlook Negatif. (Foto: Anggie Ariesta/iNews Media Group)

IDXChannel - Keputusan lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif memicu respons dari sektor perbankan nasional. 

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), Nixon LP Napitupulu, berencana segera menggelar pertemuan mendalam dengan lembaga tersebut.

Langkah proaktif ini bertujuan untuk memaparkan kondisi fundamental dan strategi jangka panjang BTN guna meminimalisir dampak sistemik terhadap peringkat kredit bank di mata dunia.

"Kita biasanya ngobrol very detail dengan mereka. Mereka itu kan meneropong in the next 5 years or 10 years. Ini banknya kayak apa sih. Nah sehingga mereka akan me-rating dengan metode yang mereka lakukan," ujar Nixon di Jakarta, Senin (9/2/2026).

Nixon menjelaskan bahwa peringkat kredit sangat krusial bagi perbankan yang aktif mencari pendanaan di pasar global. Jika peringkat korporasi ikut tergerus mengikuti peringkat negara (sovereign rating), maka daya tawar perusahaan saat menerbitkan instrumen utang internasional akan melemah.

Hal ini berpotensi menyebabkan biaya dana (cost of fund) menjadi lebih mahal bagi perbankan nasional.

"Kalau asing tuh biasanya karena kita punya pinjaman atau instrumen yang kita keluarkan di luar negeri, yang kita jual di luar negeri, atau kita beli di luar negeri. Nah ini memerlukan rating," ungkap Nixon.

Lebih lanjut, Nixon memberikan ilustrasi bahwa secara umum peringkat kredit sebuah korporasi tidak akan bisa melampaui peringkat kredit negaranya. Jika peringkat negara turun, otomatis peringkat perusahaan di negara tersebut akan menyesuaikan ke bawah, yang berujung pada meningkatnya bunga yang diminta oleh investor.

"Kalau negara dulunya kira-kira Baa2 menjadi Ba2 atau dulunya BBB menjadi BB misalnya, maka ya pasti corporate rating juga sama. Nah terus dampaknya apa? Ya lagi kalau kita nerbitin surat utang, maka tawar-menawarnya menjadi lebih mahal," tuturnya.

Meskipun Moody's menurunkan outlook menjadi negatif, lembaga tersebut masih mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia pada level Baa2.

Keputusan ini mencerminkan pengakuan atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap solid dan didukung oleh bonus demografi serta kekayaan sumber daya alam.

Namun, revisi ke arah negatif ini dipicu oleh kekhawatiran Moody's terhadap risiko penurunan kepastian kebijakan yang dianggap dapat mengganggu prediktabilitas kinerja ekonomi Indonesia di masa mendatang jika tidak segera dibenahi.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE