BANKING

OJK Sebut El Nino Berpotensi Pengaruhi Kualitas Aset hingga Permodalan Bank

Kunthi Fahmar Sandy 27/06/2026 09:46 WIB

OJK terus mendorong perbankan untuk melaksanakan stress test tersebut melalui piloting stress testing CRMS secara bertahap guna mengukur ketahanan perbankan

OJK Sebut El Nino Berpotensi Pengaruhi Kualitas Aset hingga Permodalan Bank (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Risiko iklim (termasuk El Nino) telah menjadi salah satu fokus pengaturan dan pengembangan OJK karena berpotensi memengaruhi kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, dan permodalan bank.

Melalui buku Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS), OJK telah memiliki framework asesmen dampak risiko iklim yang bermanfaat sebagai panduan bagi perbankan dalam mengevaluasi dampaknya terhadap bisnis perbankan. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan (KE PBKN) Dian Ediana Rae mengatakan, OJK terus mendorong perbankan untuk melaksanakan stress test tersebut melalui piloting stress testing CRMS secara bertahap guna mengukur

ketahanan industri perbankan terhadap risiko iklim secara umum.

"Risiko iklim, dalam hal ini El Nino, memberikan dampak paling langsung kepada sektor ekonomi yang sangat bergantung pada kondisi cuaca, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, serta industri makanan dan minuman sehingga mengurangi pendapatan debitur bank dan menurunkan kemampuan membayar kredit yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL)," katanya dalam jawaban tertulis Minggu (27/6/2026).

Namun, bank yang memiliki konsentrasi pembiayaan tinggi pada sektor ekonomi dan wilayah penyaluran yang berisiko tinggi terdampak risiko iklim seperti El Nino dapat menghadapi penurunan kualitas aset yang lebih besar dibandingkan bank yang portofolionya lebih terdiversifikasi. 

"Risiko ini termasuk dalam kategori physical climate risk yang perlu dimitigasi oleh industri perbankan. Berdasarkan hasil asesmen OJK yang dipublikasikan dalam Climate Risk and Banking Resilience Assessment (CBRA) pada awal tahun 2026 ini, secara agregat, industri perbankan Indonesia masih memiliki permodalan yang memadai, tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) yang dinilai masih cukup.tinggi untuk menjadi buffer dalam menyerap risiko yang dihadapi," tuturnya. 

Meskipun demikian, hasil asesmen menunjukkan bahwa risiko fisik dapat memberikan dampak yang serius terhadap perekonomian apabila kita tidak melakukan apapun. 

Untuk itu, OJK mendorong industri perbankan agar mulai menyusun rencana transisi, dengan mengintegrasikan dampak risiko iklim ke dalam penyusunan strategi bisnis dan pengambilan keputusan. 

Di samping itu, perbankan juga perlu mulai mengalokasikan modal dan pembiayaan ke sektor-sektor ramah lingkungan, serta menciptakan produk keuangan berbasis keberlanjutan.

"Berbagai langkah tersebut merupakan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak risiko iklim, sekaligus memberikan sinyal kepada seluruh sektor ekonomi untuk menghadirkan strategi bisnis yang lebih berkelanjutan," ujarnya.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE