BANKING

Rupiah Fluktuatif dalam Sepekan, BI: Akibat Kebijakan Trump dan Sentimen Pasar Global

Anggie Ariesta 06/03/2025 22:46 WIB

BI menyoroti nilai tukar rupiah yang berfluktuasi dalam sepekan terakhir yang dipengaruhi oleh kebijakan BI dan sentimen pasar global.

Rupiah Fluktuatif dalam Sepekan, BI: Akibat Kebijakan Trump dan Sentimen Pasar Global. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) menyoroti nilai tukar rupiah yang berfluktuasi dalam sepekan terakhir. Bank sentral menyebut laju mata uang Garuda itu dipengaruhi oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump dan sentimen pasar global.

Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, R. Triwahyono menjelaskan pasar keuangan global sedang menghadapi ketidakpastian akibat kebijakan Trump. Hal itu sudah diproyeksi sebelumnya oleh BI.

"Memang yang pernah kita bayangkan sebelumnya, bahwa kita akan berada di roller coaster ketika Trump sudah memulai masa pemerintahannya,” ujar Triwahyono dalam Taklimat Media di Jakarta, Kamis (6/3/2025).

Dia menjelaskan kebijakan Trump kerap kali berubah-ubah. Pada Senin (3/3/2025) lalu, Bank Indonesia berekspektasi bahwa tarif dengan Kanada, Meksiko, dan China akan benar-benar diimplementasikan. Tetapi kebijakan tersebut kembali berubah pada esok harinya.

“Inilah sesuatu yang akan kita hadapi setidaknya mungkin 4 tahun ke depan," katanya. 

Ia menambahkan bahwa kebijakan Trump terkait Ukraina dan Rusia juga turut memengaruhi sentimen pasar. 

"Kita akan diombang-ambing dengan kebijakan yang akan diambil salah satunya oleh Trump, terkait juga dengan sikap dia dengan Ukraina, dan terkait juga dengan sikap dia dengan Rusia dan sebagainya," kata dia.

Dari sisi domestik, pelemahan rupiah sebelumnya dipicu oleh penurunan peringkat Indonesia oleh MSCI, yang mempengaruhi pergerakan saham.

"Sebelumnya kan memang terjadi pelemahan rupiah yang cukup dalam, salah satunya disebabkan oleh release dari MSCI, jadi Morgan Stanley Index, yang dia mengeluarkan kesimpulan untuk melakukan underweight terhadap equity di Indonesia," kata Triwahyono.

Meski begitu, sentimen positif dari JP Morgan yang menaikkan rekomendasi investasi di beberapa saham perbankan Indonesia, seperti BCA dan Bank Mandiri, memberikan dorongan bagi penguatan rupiah.

"Fortunately, ketika keluar ini baru, assessment baru dari JP Morgan yang mengatakan bahwa mereka menaikkan saham untuk investasi di beberapa bank, kaya BCA, Mandiri dan sebagainya, itu membuat akhirnya berbalik," tuturnya.

Terkait intervensi pihaknya di pasar valuta asing, Triwahyono menegaskan BI mengutamakan mekanisme pasar. BI akan melakukan intervensi jika diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar.

"Apakah market perlu guidance, apakah memang terjadi misalnya ketidakseimbangan di pasar, kita sebagai otoritas memang kita harus menjadi pihak yang melakukan stabilize terhadap ketidakseimbangan itu," tambahnya.

Dalam sepekan terakhir, rupiah mengalami pergerakan yang dinamis. Pada awal pekan, rupiah sempat tertekan akibat kekhawatiran pasar terhadap kebijakan Trump. Namun, sentimen positif dari JP Morgan dan intervensi BI berhasil mendorong penguatan rupiah.

Pergerakan rupiah ini menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia sangat sensitif terhadap sentimen global dan domestik. BI akan terus memantau perkembangan pasar dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE