BANKING

The Fed Kerek Suku Bunga 25 Bps, Arah BI Rate Kini Jadi Sorotan

TIM RISET IDX CHANNEL 17/09/2026 10:32 WIB

Kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) menambah tekanan bagi bank sentral negara berkembang, termasuk Bank Indonesia (BI).

The Fed Kerek Suku Bunga 25 Bps, Arah BI Rate Kini Jadi Sorotan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) menambah tekanan bagi bank sentral negara berkembang, termasuk Bank Indonesia (BI).

Namun, BI dinilai masih memiliki ruang untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen, dengan arah kebijakan berikutnya akan sangat bergantung pada ketahanan rupiah.

Dalam analisisnya pada Kamis (17/9/2026), Sinarmas Sekuritas menilai The Fed menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 bps menjadi 3,75-4 persen sesuai ekspektasi pasar.

Namun, nada kebijakan bank sentral AS masih cenderung hawkish dengan terbukanya ruang kenaikan suku bunga lanjutan satu hingga dua kali pada pertemuan Oktober dan Desember.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga imbal hasil US Treasury dan dolar AS tetap tinggi.

Pada saat yang sama, daya tarik aset negara berkembang dapat menghadapi tekanan seiring meningkatnya risiko aliran dana keluar dari emerging market.

Meski demikian, Sinarmas Sekuritas menilai BI masih memiliki ruang untuk menahan BI Rate di 5,75 persen atau menaikkannya satu kali sebesar 25 bps pada pertemuan September.

Ruang tersebut salah satunya ditopang oleh spread suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat yang masih berada di kisaran 175-200 bps.

Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada Agustus mulai menunjukkan pemulihan.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah, meski kapasitas intervensinya tetap perlu diperhitungkan secara hati-hati.

Dengan demikian, rupiah menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah kebijakan BI dalam jangka pendek.

Jika rupiah tetap relatif tangguh, BI memiliki ruang untuk mempertahankan BI Rate di 5,75 persen dan menjadikan intervensi valas sebagai instrumen awal untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Sebaliknya, jika rupiah mulai melemah, BI berpotensi meningkatkan intervensi dengan memanfaatkan cadangan devisa.

Tekanan terhadap rupiah menjadi semakin penting apabila pelemahan berlangsung berkepanjangan dan mulai menguras buffer intervensi.

Dalam kondisi tersebut, kenaikan suku bunga BI menjadi lebih mungkin dipertimbangkan apabila pelemahan rupiah mulai mendorong inflasi dari sisi biaya atau cost-push inflation.

Langkah tersebut akan berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah, ekspektasi inflasi, sekaligus daya tarik aset berbasis rupiah.

Dari sisi pasar saham, sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang perlu dicermati dari perkembangan kebijakan tersebut.

Sinarmas Sekuritas menilai, apabila BI menahan suku bunga atau hanya menaikkannya sebesar 25 bps, tekanan terhadap biaya dana (cost of fund) masih relatif dapat dikelola sehingga proses pemulihan sektor perbankan berpotensi berlangsung lebih cepat.

“Dan strategi buy on weakness (BOW) dapat dipertimbangkan saat terjadi koreksi,” tulis Sinarmas Sekuritas.

Sebaliknya, apabila BI harus menaikkan suku bunga dua kali atau lebih dengan total kenaikan sedikitnya 50 bps, tekanan terhadap biaya dana dan pertumbuhan kredit berpotensi meningkat.

Kondisi tersebut dapat membuat proses pemulihan kinerja perbankan berlangsung lebih panjang. (Aldo Fernando)

SHARE